VISI | Tantangan Gen-Z terhadap Dominasi Elit di Asia Selatan
Namun, hanya menggulingkan pejabat tinggi tidak menyelesaikan dilema yang lebih dalam. Contoh Nepal menunjukkan paradoks dari banyak revolusi muda, di mana tatanan lama mungkin digulingkan, namun keberhasilan bisa segera diikuti oleh kebingungan jika tidak ada institusi yang dapat menyalurkan ketidakpuasan rakyat ke dalam reformasi yang berkelanjutan.
Sebuah Kawasan yang Bergolak
Masalah Nepal bukanlah hal yang terisolasi. Pemberontakan generasi yang serupa, masing-masing dengan kosa kata tersendiri tetapi disatukan oleh rasa pengkhianatan yang mendalam, telah mengguncang Asia Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Demonstrasi memaksa mantan Presiden Gotabaya Rajapaksa mundur di Sri Lanka pada 2022.
Krisis ekonomi yang dipicu oleh cadangan yang terkuras, kelangkaan barang pokok, dan hiperinflasi menjadi pemicu. Kemarahan generasi muda yang melihat impersonasi Rajapaksa sebagai puncak dari kelas politik yang telah mempertaruhkan masa depan negara demi keuntungan pribadi mereka, mendorong gerakan tersebut.
Dengan memadukan teater protes, meme, musik, dan seni dalam satu bahasa ketidaksetujuan yang sama, kamp *Gota Go Gama* di Colombo menjadi simbol perlawanan. Bagi pemuda Sri Lanka, politik adalah tentang bertahan hidup, martabat, dan hak untuk didengar.
Pada 2024, Bangladesh mengalami lonjakan serupa namun dengan nuansa yang berbeda. Para pelajar yang memprotes awalnya turun ke jalan untuk menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap korupsi dan kekurangan pekerjaan, tetapi keluhan mereka dengan cepat berkembang menjadi penolakan umum terhadap apa yang mereka lihat sebagai kecenderungan otoriter dalam pemerintahan panjang Sheikh Hasina.
Kampanye online, meme, dan frase yang dipengaruhi oleh budaya pemuda di seluruh dunia memberi dorongan pada protes daring ini. Sekali lagi, pesan yang disampaikan adalah bahwa partai-partai politik saat ini dapat dipertukarkan dalam upaya mereka meraih kekuasaan dan mengabaikan kebutuhan masyarakat umum.
Gerakan-gerakan ini dengan sengaja menghindari kepemimpinan. Mereka mencerminkan kurangnya jalur karier yang sesuai bagi pemuda yang memiliki ambisi. Politik menjadi permainan patronase setelah partai-partai tradisional menghancurkan diri mereka sendiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!