VISI | Tangisan Ibu Pertiwi
Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Seharusnya pemimpin memberi teladan, menggerakkan, lalu menguatkan. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya: pemimpin lebih suka beretorika tanpa aksi, menyalahkan rakyat, bahkan merendahkan mereka.
Kematian Affan hanyalah satu contoh nyata dari sekian banyak kasus pelanggaran kemanusiaan. Aparat yang seharusnya mengayomi rakyat, berubah menjadi mesin represif. Kekerasan menjadi bahasa sehari-hari, seakan rakyat bukan subjek yang harus dilindungi, melainkan objek yang bisa ditindas.
Di sisi lain, kasus-kasus korupsi dana pendidikan memperparah ironi bangsa ini. Dana yang seharusnya dipakai untuk mencerdaskan anak bangsa justru dikorupsi oleh oknum pejabat. Data KPK menunjukkan bahwa dari tahun 2016–2022, ada lebih dari 100 kasus korupsi yang melibatkan dana pendidikan, termasuk pengadaan buku, infrastruktur sekolah, hingga bantuan operasional.
Bagaimana mungkin kita bisa berharap lahirnya generasi emas jika dana pendidikan dikorupsi dan nyawa pemuda diremehkan? Paulo Freire pernah mengingatkan, “Pendidikan adalah praktik kebebasan.” Tetapi dalam kondisi seperti ini, pendidikan justru menjadi korban dari praktik penindasan struktural: rakyat miskin sulit mengakses pendidikan bermutu, sementara elite politik memperkaya diri.
Selain korupsi, persoalan literasi menjadi cermin keterpurukan bangsa ini. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-66 dari 81 negara dalam literasi membaca. Fakta ini menohok, karena menunjukkan bahwa sebagian besar generasi muda Indonesia kesulitan memahami bacaan yang kompleks.
Nurcholish Madjid pernah berkata, “Pendidikan adalah usaha memanusiakan manusia.” Namun bagaimana manusia bisa dimanusiakan jika sistem pendidikannya dibiarkan lemah, jika buku-buku bagus mahal, perpustakaan terbengkalai, dan budaya membaca tergantikan oleh budaya hiburan instan?
Bangsa yang lemah literasi adalah bangsa yang mudah ditipu. Tidak heran, rakyat sering terjebak dalam retorika politik, termakan hoaks, dan akhirnya terpecah belah. Tangisan Ibu Pertiwi bukan hanya karena anak-anaknya tewas di jalan, tetapi juga karena akalnya dibelenggu oleh sistem yang gagal mencerdaskan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!