VISI | Tangisan Ibu Pertiwi

ED
Senin, 1 September 2025 | 05:04 WIB
Bagikan
VISI | Tangisan Ibu Pertiwi

Oleh Drajat

“INNALILLAHI wainna ilaihi raji’un”. Tangisan kembali terdengar dari tanah air, bukan hanya dari keluarga yang kehilangan anaknya, tetapi juga dari Ibu Pertiwi yang seakan tak henti merintih melihat anak bangsa meregang nyawa akibat kebrutalan aparat. Affan (21), seorang anak muda sederhana yang bekerja sebagai pengojek online, tewas bukan karena kecelakaan atau sakit, tetapi karena kekerasan aparat yang seharusnya menjadi pelindung rakyat. Tragedi ini memicu gelombang kemarahan rakyat di berbagai daerah, bukan hanya karena kehilangan satu nyawa, tetapi karena akumulasi rasa kecewa yang sudah lama dipendam.

Kemarahan ini diperparah oleh perilaku para pejabat yang alih-alih meredam situasi justru menambah luka. Ucapan-ucapan kasar seperti “orang tolol sedunia”, “rakyat jelata”, hingga adegan berjoget dan melecehkan penderitaan rakyat, menjadi catatan gelap bagi wajah politik Indonesia. Negeri ini seakan berada di ujung tanduk: pemimpin kehilangan wibawa, lembaga negara tidak dipercaya, sarana-prasarana hancur, dan masyarakat semakin terpinggirkan.

Di tengah gelapnya situasi, masih ada cahaya yang bertahan: guru. Sosok guru, dengan segala keterbatasannya, terus memberikan pencerahan, semangat, dan motivasi bagi anak-anak bangsa. Guru menjadi simbol bahwa meski Ibu Pertiwi menangis, harapan itu belum mati.

Apa yang lebih menyedihkan dari negeri yang kehilangan arah? Bukan hanya sumber daya alamnya yang dijarah, bukan hanya infrastruktur yang hancur, melainkan hilangnya moralitas para pemimpin.

Rakyat menyaksikan langsung bagaimana wakilnya di parlemen bukan menjadi teladan, melainkan sumber luka baru. Alih-alih mengabdikan diri, mereka mempermainkan amanah rakyat. Kasus-kasus korupsi dana pendidikan, dana bansos, hingga proyek infrastruktur menjadi bukti betapa rapuhnya integritas elite politik.

Sebuah survei nasional menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap DPR hanya sekitar 27%, jauh di bawah lembaga-lembaga sosial keagamaan yang dipercaya hingga lebih dari 80%. Ini bukan sekadar angka, tetapi cermin betapa dalam jurang yang memisahkan rakyat dengan penguasanya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.