IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

VISI | Suara Yulia Tak Didengar

ED
Rabu, 15 Mei 2024 | 07:32 WIB
Bagikan
VISI | Suara Yulia Tak Didengar

Keluarga dan sanak saudara mereka akhirnya dipekerjakan di perusahaan, di wilayah perbatasan Thailand-Myanmar yang sedang dilanda konflik bersenjata. Baru sesudahnya mereka menyadari bahwa mereka telah ditipu. Tidak seperti yang dijanjikan, mereka dipekerjakan untuk melakukan penipuan di dunia maya. Pekerjaan yang jelas bertentangan dengan hati nurani. Mereka memang orang miskin. Tapi tidak diajari untuk menipu, apalagi menipu bangsa sendiri.

Mereka terperangkap. Pulang ke rumah tidak bisa, dan terpaksa bertahan, bekerja di perusahaan yang seluruh penjaganya memegang senjata api. Akhirnya, yang bisa dilakukan adalah pasrah.

Kondisi mereka sangat memilukan: disuruh bekerja terus hingga melampaui batas; disiksa bila tidak memenuhi target: dipukul dengan kayu, disetrum, disuruh jalan jongkok berkali kali; istirahat/makan hanya 30 menit, dan waktu untuk tidur hanya tiga jam sehari. Selebihnya adalah bekerja.

Seluruh kondisi tersebut tidak hanya menyengsarakan keluarga dan sanak saudara mereka nan jauh di sana, yang melakukan kerja paksa untuk mafia penipu. Tapi juga menimbulkan derita batin bagi keluarganya di sini. Sejak mereka meninggalkan rumah, yang keluarganya terus merasakan kekuatiran, kecemasan dan amarah.

"Tak pernah sedikitpun terbayangkan, martabat dan harga diri kami sebagai manusia begitu dilecehkan sampai ke titik nol," ujar Yulia.

Mereka para perempuan harus menelan pil pahit. Terlebih setelah mengetahui bahwa keluarganya di sana sekarang sudah dua sampai tiga kali dijual ke perusahaan lain karena dianggap tidak produktif.

Para perempuan ini sadar betapa besar dan gagahnya Indonesia. Mereka melihat, Ibu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dengan sangat gagah berteriak tentang kemerdekaan Palestina, dan tentang Indonesia yang siap berdiri menentang penindasan terhadap rakyat Palestina. Para perempuan ini berharap sikap yang sama dapat ditunjukkan pada persoalan di Myanmar, yang setahu mereka, dari pemberitaan media, dilanda peperangan tanpa henti yang menyengsarakan rakyatnya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.