VISI | Sosok Pahlawan Masa Kini: Menjaga Republik dari Dalam
Oleh A. Rusdiana
- Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat
- Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur.
- Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung
- Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan
PERTEMPURAN Surabaya 10 November 1945 selalu menjadi penanda bahwa republik ini berdiri dari keberanian rakyat biasa. Anak muda, ulama, santri, buruh pelabuhan, hingga masyarakat sipil bahu-membahu melawan kekuatan kolonial. Dari kobaran semangat itulah Hari Pahlawan ditetapkan. Namun tujuh puluh delapan tahun setelah itu, lanskap kepahlawanan telah berubah. Republik tidak lagi berperang dengan senjata api, tetapi berhadapan dengan tantangan moral, sosial, teknologi, dan krisis kepercayaan publik yang tak kalah berat.
Di masa lalu, pahlawan adalah mereka yang bertempur di medan laga. Kini, musuh yang dihadapi bangsa ini jauh lebih subtil: kemiskinan struktural, ketidakadilan, dekadensi moral, korupsi, disinformasi digital, hingga krisis etika di institusi publik. Dalam konteks seperti itu, kepahlawanan tidak lagi identik dengan seragam militer atau lantang berteriak di garis depan. Pahlawan muncul dalam wujud mereka yang bekerja senyap, tetapi menjaga republik tetap bergerak ke arah yang benar.
Guru: Penjaga Peradaban di Ruang Kelas
Guru tetap menjadi figur paling relevan ketika kita berbicara tentang pahlawan masa kini. Mereka tidak lagi mempertahankan republik dengan bambu runcing, tetapi dengan ilmu pengetahuan satu-satunya alat yang bisa memutus rantai kebodohan dan ketertinggalan. Dengan lebih dari 338.700 guru di seluruh Indonesia, menurut data BPS 2020/2021, profesi ini menjadi pilar moral dan intelektual bangsa.
Dalam ruang kelas yang kian tertekan oleh tuntutan digitalisasi, birokrasi administratif, dan dinamika sosial, guru menjadi garda depan pembentuk karakter. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi menjaga akhlak, mengarahkan literasi, dan melatih kecakapan hidup siswa agar mampu bersaing di abad kompetensi. Inilah kepahlawanan yang sering kali tidak terlihat, tetapi menentukan masa depan bangsa.
Tenaga Kesehatan: Pahlawan yang Menyelamatkan Nafas Republik
Pandemi Covid-19 menjadi bukti paling telanjang bahwa tenaga kesehatan adalah pahlawan yang mempertaruhkan nyawa di garis depan. Dokter, perawat, apoteker, analis laboratorium semuanya menjalankan tugas yang pada hakikatnya adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Tidak sedikit dari mereka gugur, sebagaimana para pejuang 10 November dahulu, meski medan tempurnya bukan ladang pertempuran, melainkan ruang perawatan dan instalasi darurat.
Dalam konteks pascapandemi, tantangan mereka tetap besar: resistensi antibiotik, penyakit menular baru, ketimpangan akses kesehatan, serta meningkatnya beban kerja akibat rasio tenaga kesehatan yang tidak seimbang. Mereka tidak memakai jubah pahlawan, tetapi komitmen mereka untuk merawat warga adalah bentuk kepahlawanan paling substansial.
TNI dan Polri: Penjaga Kedaulatan dan Stabilitas
Di tengah ancaman global yang semakin kompleks, mulai dari radikalisme, serangan siber, narkotika transnasional, hingga polarisasi politik, TNI dan Polri tetap menjadi benteng republik. Mereka tidak hanya mengangkat senjata, tetapi juga menjaga stabilitas sosial, mengamankan demokrasi, serta memastikan bahwa negara tetap berdiri di atas prinsip hukum dan kedaulatan.
Ancaman terhadap negara kini tidak selalu datang dari luar; justru sering muncul dari dalam: degradasi moral, penyalahgunaan jabatan, kegaduhan politik, dan desakan ideologi yang menggerogoti kebhinekaan. Dalam situasi seperti itu, profesionalisme TNI–Polri merupakan fondasi menjaga ketertiban sekaligus memastikan warga dapat menjalani kehidupan dengan aman.
Menemukan Pahlawan dalam Diri Kita
Namun ada satu pertanyaan penting: apakah pahlawan masa kini hanya mereka yang bekerja di profesi tertentu? Jawabannya tidak. Pahlawan masa kini juga hadir dalam diri warga yang menjalankan profesinya dengan integritas. Jurnalis yang menolak kompromi terhadap kebenaran. Aparatur sipil negara yang menolak gratifikasi.
Mahasiswa yang rajin membaca dan berpikir kritis. Pengusaha yang jujur membayar pajak. Bahkan orang tua yang mendidik anaknya dengan nilai moral yang benar.
Kepahlawanan hari ini bukan tentang mengangkat senjata, melainkan tentang keberanian mempertahankan nilai. Pahlawan bukan hanya mereka yang dikenang, tetapi mereka yang bekerja diam-diam menjaga Indonesia tetap tegak.
Dan pada akhirnya, Hari Pahlawan adalah undangan moral bagi kita semua: berjuang tidak harus heroik, tetapi harus autentik. Tidak harus monumental, tetapi harus jujur. Sebab republik ini tidak akan runtuh oleh kekuatan luar, tetapi oleh kelalaian kita menjaga nilai-nilainya. Wallhu'alam.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!