VISI | Solusi Krisis Etika Pelajar di Sekolah
Oleh Idris Apandi
- Praktisi Pendidikan
- Penulis Buku "Guru kalbu"
Tindakan sembilan pelajar sebuah SMA di Kabupaten Purwakarta yang mengejek dan mengacungkan jari tengah kepada seorang guru adalah cermin retak dari wajah pendidikan kita hari ini. Reaksi publik yang beragam. Mulai dari mengecam, menyayangkan, hingga merasa prihatin menunjukkan bahwa masyarakat masih menaruh harapan besar pada sekolah sebagai tempat pembentukan karakter. Namun, kejadian ini justru memperlihatkan adanya jurang antara harapan dan kenyataan.
Pascaviralnya video tidak sopan terhadap guru tersebut, para pelaku telah mengaku bersalah dan meminta maaf. Walau demikian, sekolah tetap memberikan sanksi skorsing selama 19 hari kepada para pelaku. Langkah ini tentu penting sebagai bentuk penegakan disiplin. Kasus ini pun mendapatkan atensi dari gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM. Pria yang identik dengan pakaian serba putih tersebut mengusulkan agar para pelaku diberi sanksi sosial dan bersifat edukatif seperti membersihkan lingkungan sekolah selama satu, dua, atau tiga bulan.
Jika ditelaah lebih lanjut, di balik tindakan tidak sopan tersebut, terdapat persoalan yang lebih kompleks. Krisis etika pelajar bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari berbagai faktor yang saling berkelindan, yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pengaruh teknologi digital. Ketika seorang pelajar berani merendahkan gurunya, itu bukan hanya soal keberanian yang keliru, tetapi juga menunjukkan adanya kegagalan dalam internalisasi nilai-nilai dasar seperti hormat, empati, dan tanggung jawab.
Salah satu akar masalah yang sering luput dari perhatian adalah perubahan peran keluarga. Di tengah kesibukan orang tua dan tuntutan ekonomi, pendidikan karakter di rumah kerap terabaikan. Padahal, keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Di sanalah mereka belajar tentang sopan santun, menghargai orang lain, dan memahami batasan perilaku. Ketika fondasi ini rapuh, sekolah akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!