VISI | Solusi Krisis Etika Pelajar di Sekolah
Di sisi lain, sekolah sendiri juga tidak luput dari kritik. Dalam banyak kasus, pendidikan masih terlalu berfokus pada pencapaian akademik. Nilai rapor dan prestasi lomba sering kali menjadi tolok ukur utama keberhasilan, sementara pembentukan karakter dianggap sebagai pelengkap. Pepatah 'adab di atas ilmu' seakan kehilangan tempatnya dalam praktik pendidikan modern. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin secara moral.
Lebih jauh lagi, wibawa guru yang semakin menurun juga menjadi faktor penting. Banyak guru kini berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka dituntut untuk mendisiplinkan siswa. Di sisi lain, mereka khawatir tindakan tegas justru berujung pada konflik dengan orang tua atau bahkan masalah hukum. Kondisi ini membuat sebagian guru memilih bersikap aman. Mengajar sebatas tugas formal tanpa terlibat lebih jauh dalam pembinaan karakter siswa. Ketika relasi antara guru dan murid kehilangan dimensi moral dan keteladanan, maka yang tersisa hanyalah hubungan administratif.
Tidak bisa dimungkiri, perkembangan teknologi dan media sosial juga memperparah situasi. Gawai yang seharusnya menjadi alat bantu belajar justru sering menjadi sumber distraksi dan penyimpangan. Budaya viral, keinginan untuk mendapatkan perhatian, serta minimnya literasi digital membuat pelajar mudah tergoda untuk melakukan tindakan yang melanggar norma. Perundungan tidak lagi terbatas di dunia nyata, tetapi juga merambah ke dunia maya dalam bentuk cyberbullying yang dampaknya sering kali lebih luas dan sulit dikendalikan.
Upaya pemerintah melalui regulasi dan program pendidikan karakter sebenarnya patut diapresiasi. Pembatasan akses digital bagi anak di bawah usia 16 tahun dan penguatan nilai-nilai karakter adalah langkah yang berada di jalur yang benar. Di Jawa Barat saat ini diimplementasikan Pendidikan karakter Gapura Panca Waluya yang berisikan lima nilai inti kesundaan, yaitu Cageur (sehat jasmani-rohani), Bageur (bermoral dan santun), Bener (jujur dan berintegritas), Pinter (cerdas dan kritis), serta Singer (tanggap, kreatif, dan terampil). Harapannya, semua pelajar Jawa Barat memiliki karakter yang baik. Namun, kebijakan ini tidak akan efektif tanpa implementasi yang konsisten dan dukungan dari semua pihak. Regulasi hanyalah kerangka, sedangkan ruhnya terletak pada praktik sehari-hari.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!