VISI | Silaturahmi = Networking: Strategi Rasulullah Bangun Jaringan Bisnis
Alumni Pesantren: Networking Terkuat untuk Bisnis
Salah satu aset terbesar yang dimiliki alumni pesantren adalah jaringan alumni yang sangat kuat. Ikatan yang terjalin di pesantren bukan sekadar teman sekelas, tetapi ikatan spiritual dan emosional yang mendalam. Mereka pernah sama-sama bangun subuh, sama-sama mengaji, sama-sama makan seadanya, dan sama-sama menghadapi berbagai tantangan hidup di pesantren.
Ikatan ini menciptakan trust yang sangat tinggi—sesuatu yang sangat berharga dalam dunia bisnis. Ketika Anda berbisnis dengan sesama alumni pesantren, Anda tidak perlu kontrak yang sangat detail atau jaminan yang rumit. Kepercayaan sudah terbangun sejak lama. Data menunjukkan kekuatan networking alumni pesantren sangat nyata. Pesantren Bisnis Indonesia (PBI) yang telah menelurkan sekitar 9.000 alumni sejak program Business Academy dimulai, membuktikan bahwa alumni pesantren memiliki daya tawar yang tinggi dalam dunia bisnis. Program ini tidak hanya mengajarkan skill bisnis, tetapi juga memperkuat networking di antara para peserta.
M Fariz Ragil Ramadhani, alumni pondok pesantren, berhasil membangun IDmarcom yang dalam 15 hari menghasilkan omzet Rp238 juta. Meski hanya lulusan pesantren setingkat SMP, dalam 2 bulan IDmarcom memiliki 1.400 klien aktif dari Indonesia, Eropa, dan Australia. Kunci suksesnya? Selain skill digital marketing yang mumpuni, networking yang dibangun sejak mondok membuatnya mudah mendapat referensi dan kepercayaan klien.
Hebitren (Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren) adalah contoh lain bagaimana alumni pesantren mengorganisir diri untuk saling mendukung. Organisasi ini mendorong replikasi bisnis pesantren yang terbukti bagus untuk diduplikasi dan dikembangkan di pesantren lain dalam jejaring Hebitren, sehingga terjadi akselerasi penguatan bisnis berbasis pesantren.
Yang menarik, penelitian tentang keterlibatan alumni dengan almamaternya menunjukkan tiga bentuk keterlibatan: keterlibatan instrumental (bantuan konkret seperti modal atau tenaga), keterlibatan komunikasi (konsultasi dan berbagi informasi), dan keterlibatan afektif (loyalitas emosional). Ketiga bentuk keterlibatan ini menciptakan jaringan yang sangat kuat dan berpotensi mengembangkan kelembagaan pesantren dan bisnis para alumni.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!