VISI | Sekolah Imajiner
Di sinilah tragedi terbesar pendidikan terjadi. Guru-guru yang ingin berkembang justru merasa sendirian. Mereka yang ingin belajar dengan biaya sendiri, mencari pelatihan ke sana kemari, bahkan membeli buku referensi tanpa dukungan sekolah, dianggap berlebihan. Padahal, merekalah harapan sejati pendidikan. Namun, di Sekolah Imaginer, guru model seperti itu dianggap 'tidak tahu diri' karena tidak ikut arus kemapanan palsu.
Bayangkan, dalam dunia ideal, guru jujur dan berdedikasi seharusnya mendapat tempat terhormat. Tapi di Sekolah Imaginer, mereka hanya jadi penonton di pinggir lapangan. Justru yang tidak profesional, asal dekat dengan kekuasaan, akan terus dipromosikan. Yang aktif menulis, membaca, dan berbagi ilmu dicap sok pintar, sedangkan yang hanya hadir secara fisik tapi absen secara pemikiran malah jadi teladan.
Lebih menyedihkan lagi, murid pun dididik dalam iklim semacam ini. Mereka belajar dari sistem bahwa kepalsuan adalah jalan sukses. Mereka mengamati guru yang curang, kepala sekolah yang manipulatif, dan orang tua yang selalu menyuap demi kelulusan. Perlahan tapi pasti, anak-anak bangsa ini tumbuh dengan pemahaman bahwa integritas hanyalah mitos dan bahwa keberhasilan bisa dibeli, bukan diperjuangkan.
Sekolah yang seharusnya menjadi tempat suci menanamkan nilai-nilai luhur malah berubah menjadi arena kompromi moral. Di Sekolah Imajiner, pendidikan hanya sebatas formalitas administratif. Tidak ada refleksi mendalam tentang peran guru sebagai pembentuk karakter bangsa. Tidak ada evaluasi jujur tentang sejauh mana sekolah memberi dampak positif bagi siswa, yang ada hanyalah parade pencitraan dan seremonial belaka.
Namun, harapan belum sepenuhnya padam. Di sudut-sudut kecil yang sepi, masih ada guru yang setia menulis jurnalnya sendiri, masih ada kepala sekolah yang mencoba melawan sistem dengan cara-cara santun tapi teguh, masih ada pengawas yang memilih memotivasi ketimbang mengintimidasi. Mereka adalah cahaya kecil di tengah kelamnya Sekolah Imajiner.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!