VISI | Rumah Tangga, Rumah Pembelajaran
Oleh Aep S Abdullah
PADA suatu hari, ada sepasang suami istri datang ke rumah. Awalnya, keduanya mengadukan tentang kehilangan mobil Toyota Avanza-nya yang dirental temannya. Seminggu di rental, uang pembayaran lancar. Kembali dirental dua minggu, pembayaran juga lancar. Terakhir dirental tiga bulan, mobil dan teman yang merentalnya raib.
Kejadian itu nampaknya menjadikan pasangan ini berkonflik. Saat di ruang tamu rumah, ketika suaminya sedang menceritakan kronologis hilangnya itu mobil, istrinya menimpali. Begitu suaminya melanjutkan cerita, istrinya kembali menimpali. "Kamu diam dulu saya lagi ngomong!," hardik suaminya mulai kesal.
Sang suami melanjutkan ceritanya. Sang istri kembali menimpali. Akhirnya nada keduanya mulai meninggi dan saling "bongkar" aib. Istrinya mulai menangis. Saya minta keduanya kembali fokus pada masalah raibnya kendaraan, karena kalau tidak, saya tidak mau lagi mendengarkan masalah mereka.
Sebuah pasangan berkonflik itu biasa. Tapi, kita juga harus belajar menyelesaikan konflik dengan benar. Padahal, rumah tangga adalah rumah pembelajaran untuk saling memahami, saling mendengar, menyelesaikan konflik seberat apapun untuk kemudian kita bisa kembali saling menyapa, dan saling memperhatikan.
Kekerasan yang muncul di lingkungan masyarakat, sebagian besar pelakunya lahir dari keluarga-keluarga yang rusak. Tak jelas arah hidup, terbiasa melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), sensitif, mudah jealous, utopis, terbiasa berbohong, menganggap biasa menghilangkan barang milik orang lain, dan perilaku-perilaku buruk lainnya yang mendapatkan pembenaran di keluarga.
Di tengah situasi masyarakat seperti sekarang ini, penguatan komunikasi di dalam rumah tangga sangat penting, karena pengaruh dari luar sudah masuk ke rumah-rumah kita. Ke anak-anak dan istri kita. Selama komunikasi di rumah terjalin dengan baik, insya Alloh jadi benteng yang kokoh, terhadap pengaruh apapun dari luar. Kenyamanan ril di dalam rumah tangga, akan mengalahkan kenyamanan semu dari dunia maya.
Tentu kita sangat prihatin mendengar kabar seorang istri diperlakukan secara tidak manusiawi di rumah, jadi bulan-bulanan korban kekerasan suami. Seorang suami dibacok istri karena akumulasi kekesalan terhadap suami. Dan kekerasan-kekerasan lainnya di dalam rumah tangga.
Ini tidak akan pernah bisa diselesaikan hanya melalui pendidikan karakter di sekolah-sekolah, tapi di rumah perlu teladan orang tua, di sekolah perlu teladan tenaga pendidik dan kependidikan.
Di rumah kita belajar tepa selira. Belajar menahan diri demi untuk orang-orang tercinta. Belajar mengendalikan emosi. Belajar bersabar. Belajar kerja keras untuk membahagiakan dan melindungi orang-orang tercinta. Belajar untuk mendapatkan keberkahan dan ridho Allah SWT.
"Miniatur" lingkungan masyarakat ini, kalau bisa dibina dengan baik, menjadi sebuah karakter, maka akan melahirkan orang-orang baik di lingkungan masyarakat, karena keluarga-keluarga yang rusak akan melahirkan lingkungan masyarakat yang rusak pula.
Karena pada dasarnya, apa yang akan kita bawa dari dunia ini selain pohon-pohon kebaikkan yang pernah kita tanam, dan nantinya bisa dinikmati oleh orang banyak. ***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!