Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Truk Masuk Jurang Cisarakan Sukabumi, Sopir Tewas 26 Aug 2026 Kabut Asap Karhutla Jambi Makin Pekat, Ganggu Kesehatan dan Sekolah 26 Aug 2026 SMA Taruna Nusantara Buka Rekrutmen P3 2026, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Truk Masuk Jurang Cisarakan Sukabumi, Sopir Tewas 26 Aug 2026 Kabut Asap Karhutla Jambi Makin Pekat, Ganggu Kesehatan dan Sekolah 26 Aug 2026 SMA Taruna Nusantara Buka Rekrutmen P3 2026, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

VISI | Rotasi

ED
Senin, 27 Oktober 2025 | 04:32 WIB
Bagikan
VISI | Rotasi

Oleh Drajat

ALANGKAH indahnya jika negeri ini dipimpin oleh para pemimpin yang amanah — terlebih di bidang pendidikan. Pemimpin yang tidak hanya menguasai teori manajemen pendidikan, tetapi juga telah merasakannya di lapangan. Pemimpin yang bukan hanya pandai berbicara di podium, melainkan hadir di tengah peserta didik, guru, dan masyarakat, menyelami denyut nadi pendidikan sesungguhnya.

Namun, kenyataan sering kali jauh dari harapan. Belakangan ini kita menyaksikan betapa rotasi jabatan di dunia pendidikan kerap kehilangan makna. Alih-alih menjadi upaya penyegaran dan peningkatan mutu organisasi, rotasi justru berubah menjadi ajang mempertahankan kekuasaan dan kedekatan politik.

Banyak pejabat pendidikan yang semestinya menjadi teladan justru larut dalam kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka sibuk mengurus “dunia kecilnya” — proyek, posisi, atau jaringan — dan lupa bahwa di pundak mereka ada amanah besar: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Rotasi jabatan sejatinya adalah instrumen untuk memperkuat organisasi. Melalui rotasi, seorang pemimpin diharapkan mendapatkan pengalaman baru, memperluas wawasan, dan memunculkan gagasan segar di tempat baru. Guru atau kepala sekolah yang telah berhasil di satu tempat, diharapkan dapat menularkan keberhasilannya ke tempat lain.

Namun, dalam praktiknya, rotasi sering kali hanya menjadi formalitas administratif. Prosesnya tak jarang ditentukan oleh kedekatan personal, jalur politik, bahkan kekuatan finansial. Mereka yang memiliki akses kekuasaan lebih mudah dipertahankan di posisi “basah”, sementara yang berintegritas justru dipindahkan ke tempat yang kurang strategis.

Padahal, inti dari rotasi bukanlah soal “ditempatkan di mana”, melainkan “diberi kesempatan untuk memberi arti”. Rotasi harus menjadi jembatan untuk menguji profesionalisme dan keikhlasan. Pemimpin yang amanah tidak akan menolak ditempatkan di mana pun, karena baginya, setiap tempat adalah ladang pengabdian.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.