VISI | Revitalisasi Pasar, Harga Kios/Los Kenapa "Mahal"?
Kenapa harga kios/los mahal? Hasil survei saya di sejumlah pasar tradisional yang direvitalisasi menunjukkan harga jual per meter persegi saat ini berkisar antara Rp. 20 juta hingga Rp. 30 juta.
Di Pasar Pagaden, Kabupaten Subang, harga per meternya rata-rata Rp. 20 jutaan per meter perseginya. Di Kabupaten Bandung kemungkinan kisaran harganya Rp. 20 juta hingga Rp. 30 juta. Karena bagaimana pun membangun pasar itu menggunakan komponen yang sama dimana harga komponen-komponennya itu harganya tidak akan beda jauh. Sehingga, kisaran harga kios/los di pasar-pasar modern lainnya yang kategorinya/kelas pasarnya sama harganya pasti tidak akan beda jauh karena kenaikan harga beberapa komponen bahan bangunan yang signifikan dari mulai harga semen, besi, pasir, tukang, dll-nya, akan mempengaruhi nilai setiap meter kios/los pasar baru.
Kalau di Pasar Modern Banjaran dengan lokasi yang strategis, ada miniatur Masjid Nabawi Madinah pasti harganya lebih mahal di Bandingkan dengan Pasar Modern Ciparay. Fasilitas umum (Fasum) dan fasilitas sosial (Fasos) yang ada di sekitar pasar akan mempengaruhi harga kios/los.
Sebagai perbandingan pada tahun 2019 di Kota Bandung harga per meter-2 kios/los di pasar yang baru dibangun paling murah Rp. 30 jt/meter-2, sedangkan di Pasar Desa Losari, Cirebon Timur harga kios/los Rp. 16,5 juta/meter-2
Hal penting lainnya yang kebanyakan tidak diketahui oleh para pedagang adalah uang DP dan nilai cicilan kios/losnya. Kebanyakan pedagang seolah-olah uang DP itu harus dibayar saat booking sehingga mereka merasa berat.
Padahal, dalam prakteknya tidak demikian. Pada awal-awal penjualan kebanyakan tidak membayar sesuai nilai DP yang tetera. Ada yang bayar Rp. 5 juta, Rp. 10 juta bahkan ada yang bayar Rp. 1 juta dan bahkan hanya Rp. 500 ribu. Nah, ketika pendaftar sudah terlampau banyak, akhirnya hanya pendaftar yang membayar sesuai nilai DP saja yang diprioritaskan.
Oleh karena itu, bagi para pedagang yang pasarnya terkena program revitalisasi tinggal pilih saja, mau bersikap jadi penolak, jadi penolak tapi pintar mengamankan lokasi yang strategis, atau tidak mau pusing ikut saja rencana pemerintah. Hidup ini kan pilihan, terserah kita mau bersikap seperti apa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!