VISI | Qulil Haq dengan Bijak
Lihat bagaimana Nabi Muhammad SAW menyampaikan kebenaran. Ada kisah lucu tapi penuh hikmah saat seorang Badui kencing di masjid. Sahabat-sahabat Nabi udah siap ngegas, tapi Nabi malah bilang, “Biarkan dia selesai.” Setelah itu, beliau bersihkan sendiri dan menasihati dengan lembut. Bayangin, itu masjid. Tapi Rasulullah tetap kalem. Kita? Sedikit-sedikit langsung bikin utas panjang penuh sindiran.
Kadang yang bikin orang jauh dari kebenaran bukan karena mereka tidak suka kebenaran, tapi karena yang menyampaikan kebenaran lebih mirip buzzer dibanding pendakwah. Suaranya keras, isinya menyalahkan, dan bonusnya: tidak mau dikritik. Kalau beda pendapat, langsung divonis sesat. Padahal kebenaran itu seperti cahaya, bukan petasan.
Rasulullah bersabda dalam HR. Muslim: "Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan mencorengnya." Artinya, kalau kita menyampaikan kebenaran tanpa kelembutan, bisa-bisa malah jadi pencitraan yang gagal total.
Islam mengajarkan keseimbangan. Tegas dalam prinsip, tapi santun dalam penyampaian. Surah An-Nahl ayat 125 jelas menyebut: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik." Debat yang baik, ya. Bukan debat yang isinya saling blokir dan sindir di media sosial.
Masalahnya, sebagian orang merasa bahwa menyampaikan kebenaran adalah alasan sah untuk jadi kasar. Padahal Rasulullah hidup berdampingan dengan berbagai kelompok, bahkan dengan orang Yahudi dan Nasrani di Madinah. Beliau tidak mencela, tidak menghakimi. Tapi tetap konsisten dalam iman dan prinsip.
Kalau semua orang merasa dirinya paling benar dan menolak mendengar, maka tak ada lagi ruang dialog. Yang ada hanyalah monolog ego yang berbalas amarah. Dan di situlah akar dari sikap intoleran. Merasa suci sendiri, menuding orang lain salah, dan parahnya—mengatasnamakan agama.
Padahal Allah menciptakan kita berbeda-beda, sebagaimana disebut dalam Surah Al-Hujurat ayat 13: "Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." Tapi sering kali, yang terjadi bukan saling mengenal, melainkan saling unfollow dan block.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!