VISI | Qulil Haq dengan Bijak
Oleh Aep S. Abdullah
PERNAHKAH kita melihat orang menyampaikan pendapat melalui medsos tapi nadanya seperti mau debat final lawan mantan? Serius, kadang kita niatnya cuma mau bilang, “Maaf Pak, sabuk pengamannya belum dipasang,” tapi nadanya seperti, “Hei pendosa, bertobatlah!”. Jadinya bukan diterima, malah ditinggalin atau diblokir—padahal belum follow.
Nah, ini sering terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Ketika ada perbedaan pendapat, yang keluar bukan argumen, tapi emosi dan status WhatsApp nyindir-nyindir. Padahal menyampaikan pendapat yang menurutnya benar itu ibarat ngasih obat ke anak kecil. Kalau langsung disuapin tanpa gula, ya pasti muntah. Tapi kalau dikasih rasa stroberi, eh malah minta nambah.
Dalam hidup bermasyarakat, menyampaikan pendapat kadang seperti main ular tangga—salah-salah bisa balik ke kotak satu. Apalagi kalau pendapat kita bertentangan dengan arus mayoritas, bisa langsung kena label: “Radikal” atau “Liberal,” bahkan yang paling menyeramkan, “Bukan dari kelompok kita.” Padahal dalam Islam, perbedaan itu rahmat, bukan bahan bakar drama.
Ungkapan "Qulil haqqa walau kana murran" alias “Katakanlah kebenaran meskipun pahit,” sering dijadikan senjata untuk ngomong sembarangan. Tapi sayangnya, banyak yang hanya ambil "katakanlah kebenaran", tapi lupa bagian "walau pahit"-nya harus disampaikan dengan cara yang manis. Ujung-ujungnya, bukan dakwah tapi debat kusir yang tak berkesudahan.
Allah SWT sendiri dalam Surah Al-Ahzab ayat 70 berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." Tapi ingat, perkataan benar itu bukan berarti boleh sembarangan. Harus dengan hikmah, adab, dan tentunya empati. Jangan sampai kita merasa paling Islami tapi malah kehilangan akhlak Islami.
Karena harus diingat, kalau kita merasa yang paling benar, itu telah merendahkan diri sendiri, karena kita tidak bisa menghargai kebenaran yang diyakini orang lain. Bahkan, mungkin yang mereka yakini lebih baik dari kebenaran yang menjadi keyakinan kita.
Lihat bagaimana Nabi Muhammad SAW menyampaikan kebenaran. Ada kisah lucu tapi penuh hikmah saat seorang Badui kencing di masjid. Sahabat-sahabat Nabi udah siap ngegas, tapi Nabi malah bilang, “Biarkan dia selesai.” Setelah itu, beliau bersihkan sendiri dan menasihati dengan lembut. Bayangin, itu masjid. Tapi Rasulullah tetap kalem. Kita? Sedikit-sedikit langsung bikin utas panjang penuh sindiran.
Kadang yang bikin orang jauh dari kebenaran bukan karena mereka tidak suka kebenaran, tapi karena yang menyampaikan kebenaran lebih mirip buzzer dibanding pendakwah. Suaranya keras, isinya menyalahkan, dan bonusnya: tidak mau dikritik. Kalau beda pendapat, langsung divonis sesat. Padahal kebenaran itu seperti cahaya, bukan petasan.
Rasulullah bersabda dalam HR. Muslim: "Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan mencorengnya." Artinya, kalau kita menyampaikan kebenaran tanpa kelembutan, bisa-bisa malah jadi pencitraan yang gagal total.
Islam mengajarkan keseimbangan. Tegas dalam prinsip, tapi santun dalam penyampaian. Surah An-Nahl ayat 125 jelas menyebut: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik." Debat yang baik, ya. Bukan debat yang isinya saling blokir dan sindir di media sosial.
Masalahnya, sebagian orang merasa bahwa menyampaikan kebenaran adalah alasan sah untuk jadi kasar. Padahal Rasulullah hidup berdampingan dengan berbagai kelompok, bahkan dengan orang Yahudi dan Nasrani di Madinah. Beliau tidak mencela, tidak menghakimi. Tapi tetap konsisten dalam iman dan prinsip.
Kalau semua orang merasa dirinya paling benar dan menolak mendengar, maka tak ada lagi ruang dialog. Yang ada hanyalah monolog ego yang berbalas amarah. Dan di situlah akar dari sikap intoleran. Merasa suci sendiri, menuding orang lain salah, dan parahnya—mengatasnamakan agama.
Padahal Allah menciptakan kita berbeda-beda, sebagaimana disebut dalam Surah Al-Hujurat ayat 13: "Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal." Tapi sering kali, yang terjadi bukan saling mengenal, melainkan saling unfollow dan block.
Kita boleh menyampaikan kritik. Tapi jangan lupa, kritik yang baik seperti nasi goreng—ada rasa, ada bumbu, dan tetap bisa dinikmati semua orang. Bukan seperti sambel setan yang bikin orang trauma makan pedas seumur hidup.
Kebenaran itu tidak butuh suara paling lantang. Ia hanya butuh hati yang tenang dan sikap yang bijak. Jangan sampai kita kehilangan substansi hanya karena gaya penyampaian yang bikin sakit hati.
Maka mari kita sampaikan kebenaran dengan bijak. Jangan dijadikan senjata untuk menyerang, tapi jembatan untuk memahami. Jangan sampai niat menyuarakan kebenaran justru menjauhkan orang dari kebaikan.
Karena "Qulil haqqa walau kana murran" itu bukan tentang membentak, tapi tentang ketegasan yang dibalut kelembutan. Bukan tentang siapa paling benar, tapi siapa yang paling bisa menjaga kebenaran tetap mulia.
Sampaikan kebenaran dengan bijak. Jangan biarkan semangat menyampaikan kebenaran berubah jadi alasan untuk jadi intoleran. Kebenaran yang tak disampaikan dengan cara yang benar, hanya akan jadi luka yang tak kunjung sembuh.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!