VISI | PR yang Masih Belum Selesai
Oleh Aep S. Abdullah
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Surat Ar-Ra'd ayat 11)
DALIL ini terasa semakin relevan ketika Indonesia menutup tahun 2025 dan menatap 2026. Pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran 5 persen, namun di balik angka itu tersimpan pekerjaan rumah besar: lingkungan yang terus tertekan, ketimpangan sosial, dan rasa keadilan yang belum sepenuhnya hadir di tengah masyarakat.
Jawa Barat, dengan jumlah penduduk lebih dari 50 juta jiwa, menjadi cermin paling jujur dari wajah Indonesia hari ini. Provinsi ini adalah pusat industri, pendidikan, dan urbanisasi. Kontribusinya terhadap perekonomian nasional besar, tetapi tekanan terhadap ruang hidup, sumber daya alam, dan layanan publik juga jauh lebih berat dibandingkan wilayah lain.
Sepanjang 2025, Jawa Barat berulang kali menghadapi bencana alam. Data kebencanaan menunjukkan banjir dan longsor mendominasi, terutama di wilayah dengan alih fungsi lahan tinggi. Banyak kawasan yang dulunya hijau kini berubah menjadi permukiman padat atau area komersial tanpa perhitungan daya dukung lingkungan.
Deforestasi di Pulau Jawa menjadi persoalan yang kerap tersembunyi di balik narasi pembangunan. Padahal, dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia, setiap hektar hutan di Jawa memiliki nilai ekologis berlipat. Ketika hutan rusak, dampaknya tidak menunggu waktu lama: banjir, krisis air bersih, dan kerugian ekonomi langsung dirasakan masyarakat.
Perum Perhutani mencatat bahwa kawasan hutan yang dikelola di Pulau Jawa dan Madura masih berada di atas satu juta hektar. Luasan ini sejatinya merupakan benteng terakhir ekologi Jawa. Namun tekanan dari perambahan, konflik lahan, dan lemahnya pengawasan membuat fungsi hutan terus menurun dari tahun ke tahun.
Sebagian besar daerah aliran sungai di Jawa Barat kini berada dalam kondisi kritis. Secara sederhana, ini berarti hujan yang turun tidak lagi diserap tanah, melainkan langsung mengalir ke hilir. Banjir pun menjadi rutinitas tahunan, bukan lagi peristiwa luar biasa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!