VISI | Pidato Panas Prabowo: Dari Orasi ke Operasi
Epilog: Humor Sufistis & Harapan Realistis
Guru saya pernah berkata, “Jika pidato adalah api, maka niat tulus adalah sumbunya. Tanpa sumbu, api cepat padam.” Karena itu, setelah tepuk tangan reda, yang kita butuhkan bukan hanya kata-kata, melainkan niat yang jernih.
Biarlah APBN kita bukan sekadar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, melainkan Anggaran Penuh Berkah Nasional. Dan untuk siapa pun yang masih nekat menggerogoti uang rakyat, malulah sedikit pada angin malam: ia lewat tanpa mengambil apa pun.
Harapan saya sederhana tapi tegas:
- Lumbung pangan terisi, harga stabil, petani tersenyum.
- Anak-anak kenyang, sekolah kuat, guru dihormati.
- Puskesmas ramah, rumah sakit tidak menakutkan.
- Listrik terjangkau, industri percaya diri.
- Pemerintah lurus, birokrasi sigap, audit cerdas.
Pak Presiden, peta perang sudah jelas, logistik dihitung, pasukan dipanggil. Kini saatnya orasi menjelma operasi, semangat menjadi sistem, dan janji berubah menjadi kejadian. Jalan ini panjang, tetapi kita punya tiga kompas di saku: keberanian, ketulusan, dan akal sehat.
Dengan itu, pidato yang panas bisa menjadi cahaya yang teduh—menerangi langkah Indonesia menuju merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.***
- H. Tb Raditya Indrajaya S.E., adalah Pemerhati Ekonomi dan Kebijakan Publik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!