VISI | Pesantren dan Agrobisnis: Dari Lahan Tidur jadi Sumber Pangan Mandiri
Perjalanan menuju kemandirian pangan di pesantren tentunya tidak lepas dari berbagai tantangan: yaitu antara lain keterbatasan modal usaha, kurangnya keterampilan teknis, dan minimnya kemitraan. Menurut Dr. Latief Awaludin, pesantren perlu membangun jejaring dengan perguruan tinggi dan lembaga keuangan agar mampu mengelola agrobisnis secara berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya kurikulum agrobisnis di pesantren agar generasi santri paham sains pertanian modern. (Edisi.co.id, 2025)
Sebagai contoh lain, Pesantren As’adiyah di Sengkang, Sulawesi Selatan, menyiapkan 100 hektare lahan untuk tanaman pisang, nenas, serta peternakan sapi dan kerbau. Dengan menerapkan sistem pertanian terpadu, pesantren ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan internal, tetapi juga membantu memasok hasil tani ke pasar lokal. Langkah konkret ini memperlihatkan bahwa pesantren dapat menjadi bagian penting dalam rantai pasok pangan daerah. (Antara News Makassar, 2024)
Berdasarkan berbagai pengalaman tersebut, ada beberapa tips praktis untuk mengoptimalkan lahan menganggur di pesantren: pertama, mulai dengan pemetaan aset tanah pesantren untuk memastikan kepemilikan lahan secara legalitas dan potensi tanam. Kedua, gunakan metode pertanian terpadu (integrated farming) seperti kombinasi tanaman, ternak, dan ikan untuk efisiensi lahan. Ketiga, libatkan santri sebagai tenaga belajar-praktik dengan pendekatan learning by doing. Keempat, bentuk badan usaha seperti PT, BUMP atau koperasi pesantren untuk menampung dan memasarkan hasil produksi.
Selanjutnya menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta lembaga zakat/wakaf untuk akses modal dan pelatihan. Jika pesantren menjalahkan langkah-langkah ini, maka Insyaallah lahan tidur milik pesantren bisa menjadi sumber kehidup baru yang membawa berkah bagi pesantren untuk kemandirian ekonomi dan bermanfaat juga untuk masyarakat untuk mendukung program ketahanan pangan di Indonesia.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!