VISI | Pesantren dan Agrobisnis: Dari Lahan Tidur jadi Sumber Pangan Mandiri

ED
Rabu, 29 Oktober 2025 | 08:22 WIB
Bagikan
VISI | Pesantren dan Agrobisnis: Dari Lahan Tidur jadi Sumber Pangan Mandiri

Oleh Nuslih Jamiat

  • Dosen Telkom University
  • Center of Excellence for MSME Halal, Telkom University

PERKEMBANGAN beberapa pesantren di Indonesia kini mulai tumbuh semangat baru yaitu mengubah lahan tidur menjadi ladang produktif. Apabila dahulu halaman pesantren hanya dipenuhi bangunan dan pohon rindang, kini mulai terlihat adanya deretan kebun sayur, kolam ikan, dan peternakan kecil. Salah satu yang melakukan ini Adalah Pesantren Al Ittifaq di Ciwidey, Kabupaten Bandung, menjadi contoh inspiratif. Pesantren ini memiliki prinsip “tidak ada sejengkal tanah yang menganggur,” pesantren Al Ittifaq menjadikan kegiatan pertanian sebagai bagian dari pendidikan karakter santri, menumbuhkan disiplin dan rasa tanggung jawab terhadap bumi. (Kemenag.go.id, 2024)

Upaya inovasi serupa dengan mengoptimalkan lahan pesantren hadir juga di Purwakarta yaitu melalui Pondok Pesantren AQL Islamic School 2. Sejak 2024. Pesantren ini memanfaatkan dua hektare lahan untuk pelatihan agrobisnis bagi santri. Para santri mereka belajar menanam cabai, kangkung, dan sayuran organik, yang hasilnya digunakan untuk konsumsi pesantren dan dijual ke pasar lokal. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat menyiapkan santri menjadi petani modern dan wirausahawan sosial. (Sinarjabar.com, 2024)

Selain di Jawa Barat, ada juga kisah serupa datang dari Kalimantan Timur, yaitu pada Pondok Pesantren Trubus Iman di Kabupaten Paser yang berhasil mengelola tanah wakaf menjadi pusat agrobisnis terpadu. Mereka mengolah lahan dengan menanam sayur, beternak ayam, hingga membuka agrowisata edukatif bagi masyarakat sekitar. Usaha ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja baik untuk santri dan masyarakat sekitarnya, tetapi juga membuktikan bahwa pesantren dapat menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan berdaya saing. (Badan Wakaf Indonesia, 2024)

Program nasional ketahanan pangan yang dicanangkan oleh pemerintah juga melibatkan pesantren sebagai mitra strategis. Seperti yang terjadi di Jombang yaitu pada Pondok Pesantren Tebuireng yang ikut menanam jagung dalam program “1 juta hektar lahan produktif” bersama pemerintah dan kepolisian. Santri Tebuireng tak hanya diberikan pembelajaran agama, tetapi juga melakukan kegiatan menanam, memanen, dan mengelola hasil bumi, sebuah sinergi antara spiritualitas dan kemandirian pangan. (RMOL.id, 2025)

Perjalanan menuju kemandirian pangan di pesantren tentunya tidak lepas dari berbagai tantangan: yaitu antara lain keterbatasan modal usaha, kurangnya keterampilan teknis, dan minimnya kemitraan. Menurut Dr. Latief Awaludin, pesantren perlu membangun jejaring dengan perguruan tinggi dan lembaga keuangan agar mampu mengelola agrobisnis secara berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya kurikulum agrobisnis di pesantren agar generasi santri paham sains pertanian modern. (Edisi.co.id, 2025)

Sebagai contoh lain, Pesantren As’adiyah di Sengkang, Sulawesi Selatan, menyiapkan 100 hektare lahan untuk tanaman pisang, nenas, serta peternakan sapi dan kerbau. Dengan menerapkan sistem pertanian terpadu, pesantren ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan internal, tetapi juga membantu memasok hasil tani ke pasar lokal. Langkah konkret ini memperlihatkan bahwa pesantren dapat menjadi bagian penting dalam rantai pasok pangan daerah. (Antara News Makassar, 2024)

Berdasarkan berbagai pengalaman tersebut, ada beberapa tips praktis untuk mengoptimalkan lahan menganggur di pesantren: pertama, mulai dengan pemetaan aset tanah pesantren untuk memastikan kepemilikan lahan secara legalitas dan potensi tanam. Kedua, gunakan metode pertanian terpadu (integrated farming) seperti kombinasi tanaman, ternak, dan ikan untuk efisiensi lahan. Ketiga, libatkan santri sebagai tenaga belajar-praktik dengan pendekatan learning by doing. Keempat, bentuk badan usaha seperti PT, BUMP atau koperasi pesantren untuk menampung dan memasarkan hasil produksi.

Selanjutnya menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta lembaga zakat/wakaf untuk akses modal dan pelatihan. Jika pesantren menjalahkan langkah-langkah ini, maka Insyaallah lahan tidur milik pesantren bisa menjadi sumber kehidup baru yang membawa berkah bagi pesantren untuk kemandirian ekonomi dan bermanfaat juga untuk masyarakat untuk mendukung program ketahanan pangan di Indonesia.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.