VISI | Pertamina untuk Siapa?
Oleh Aep S. Abdullah
DALAM sejarah kepemimpinan Indonesia, nyaris semua presiden punya kesamaan: menaikkan harga BBM tak lama setelah duduk di kursi RI-1. Megawati, SBY, hingga Jokowi, semuanya memulai langkah awal pemerintahannya dengan keputusan yang bikin dompet rakyat menjerit. Bahkan Jokowi hanya butuh satu bulan setelah dilantik untuk menaikkan harga BBM.
Namun di tengah tren naik-naik dan terus naik itu, hanya satu nama yang justru mencatatkan sejarah sebaliknya: Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Enam bulan setelah dilantik, alih-alih menaikkan, Gus Dur justru menurunkan harga Premium dari Rp 1.000 menjadi Rp 600 per liter!. Solar tetap ditahan di Rp 550 per liter. Dalam logika pemerintah modern, keputusan semacam ini terdengar gila. Tapi di mata rakyat kecil, inilah bentuk nyata keberpihakan.
Meski akhirnya pada Oktober 2000 Gus Dur juga menaikkan harga BBM mengikuti dinamika ekonomi saat itu, langkah awalnya tetap menjadi catatan emas. Di tengah tekanan ekonomi dan desakan IMF, ia tetap memberi ruang napas bagi rakyat. Maka tak heran jika banyak orang mengenangnya bukan sekadar sebagai presiden, tapi sebagai pemimpin yang berani melawan arus—termasuk arus kenaikan BBM.
Presiden Prabowo juga tadinya kita harapkan bisa mengambil langkah seperti Gus Dur. Namun, setelah heboh kasus mega korupsi di tubuh PT Pertamina, yang nilainya bikin keringat dingin keluar lebih cepat daripada naik tarif listrik, tidak ada perubahan berarti pada harga BBM dalam negeri. Publik berharap, setelah borok besar itu terbuka, akan ada perbaikan, pemangkasan biaya, dan tentu saja: penurunan harga BBM. Namun nyatanya, harga tetap bertengger tinggi, seperti tak tergoyahkan oleh badai skandal.
Padahal, harapan itu bukan tanpa alasan. Negara-negara tetangga kita—Malaysia, Brunei, bahkan Vietnam—menjual BBM dengan harga jauh lebih murah dibanding Indonesia. Di Malaysia, harga per liter bensin berkisar RM 2.05 atau sekitar Rp 7.000. Sementara di sini? Bisa mencapai Rp 14.000. Apakah kita sedang membayar 'aroma kenangan' dari ladang minyak sendiri?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!