VISI | Pepesan Kosong di HGN

ED
Senin, 24 November 2025 | 07:22 WIB
Bagikan
VISI | Pepesan Kosong di HGN

Oleh Drajat

ADA luka yang tidak kelihatan, tetapi terasa sangat dalam pada profesi guru di negeri ini: luka karena janji. Luka itu tidak berdarah, namun ia menorehkan bekas yang tidak mudah hilang. Setiap kali Hari Guru Nasional (HGN) tiba, luka itu sedikit terbuka lagi—bukan karena ingin diingat, tetapi karena janji-janji lama muncul kembali dalam bentuk yang baru: lebih manis, lebih wangi, tetapi tetap tidak ditepati.

Penulis ingin bercerita, sebuah kisah yang mungkin dialami banyak guru di berbagai daerah. Entah sudah berapa kali penulis diundang sebagai “tamu kehormatan”. Setiap pergantian pemimpin daerah, selalu ada panggilan: “Kami bangga pada Anda yang telah mengharumkan nama daerah.”

Kalimat itu terdengar indah, seperti angin sejuk di tengah panasnya dunia pendidikan. Dalam satu acara besar yang sangat meriah, di mana lampu sorot menyala dan kamera media berdiri berjajar, seorang pemimpin daerah berkata lantang: “Saudara yang berprestasi akan kami berangkatkan ke luar negeri. Bisa untuk jalan-jalan, bisa untuk tugas belajar. Ini hadiah dari daerah!”

Tepuk tangan menggema. Nama penulis disebut di depan khalayak. Bahkan esok harinya berita itu memenuhi media lokal. Komentar demi komentar bermunculan: “Luar biasa! Pemimpinnya peduli pendidikan!”

Penulis dipanggil ke ruang protokol. Diminta tanda tangan. Harapan tumbuh. Hati sedikit menghangat. “Mungkinkah penghargaan seperti ini benar-benar hadir untuk guru?” tanya penulis pelan dalam hati.

Namun semua itu runtuh seketika. Yang diberikan hanyalah secarik sertifikat—kertas tipis berbingkai emas palsu. Tidak ada tiket. Tidak ada program. Tidak ada tindak lanjut. Tidak ada apapun selain kertas dan senyum yang sudah kehilangan makna. Janji itu menguap seperti asap. Yang tersisa hanyalah rasa malu pada diri sendiri karena sempat percaya.

Cerita itu bukan hanya milik penulis. Banyak guru menyimpannya dalam hati: Ada yang dijanjikan umrah, tetapi hilang tak berbekas. Ada yang dijanjikan kenaikan pangkat, namun berakhir dalam tumpukan berkas yang tidak pernah dibuka. Ada yang dijanjikan insentif, tapi hanya muncul di berita, tidak pernah muncul di rekening. Ada yang dijanjikan beasiswa, namun lenyap bersama berakhirnya seremoni.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.