VISI | Pengikut Nabi SAW Bukan?
Rasulullah SAW adalah pribadi yang rendah hati. Beliau duduk bersama budak, makan di atas tanah, dan tidak membedakan antara kaya dan miskin. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda: “Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim). Ini adalah prinsip kepemimpinan yang harus ditanamkan sejak dini.
Hasil survei Hosein Askari, profesor dari George Washington University, menunjukkan bahwa negara-negara mayoritas Muslim justru kurang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam praktik kehidupan. Ironisnya, negara-negara non-Muslim lebih adil, jujur, dan menghargai hak asasi manusia. Ini menunjukkan bahwa kita miskin teladan, bukan miskin ajaran.
Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal 1447 H atau 6 September 2025 Masehi, bukan sekadar perayaan. Ia adalah momen refleksi. Apakah kita benar-benar mencintai Rasulullah?, Apa iya kita itu pengikut Rasulullah? Jika iya, apakah sudah meneladani akhlaknya, bukan hanya memperbanyak salat dan shalawat tanpa perubahan perilaku.
Peringatan Maulid seharusnya menjadi ajang memperkuat iman, mempererat ukhuwah, dan memperbaiki akhlak. Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan Islam yang eksklusif, melainkan inklusif dan penuh kasih. Beliau bersabda: “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani).
Kita harus berani mengubah paradigma pendidikan. Fokusnya bukan hanya pada hafalan, tetapi pada pembentukan karakter. Kita butuh generasi yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga mengamalkannya. Sebab, Al-Qur’an bukan untuk dihafal semata, tetapi untuk dijadikan pedoman hidup.
Rasulullah SAW adalah pemimpin yang menangis untuk umatnya. Dalam sebuah riwayat, beliau berdoa: “Ya Allah, umatku... umatku...” (HR. Muslim). Beliau tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, melainkan keselamatan umat. Maka, pemimpin sejati adalah yang mengutamakan kepentingan rakyat, bukan kelompok atau golongan.
Kita harus membangun budaya malu. Malu untuk korupsi, malu untuk berbohong, malu untuk menzalimi. Rasulullah SAW bersabda: “Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah sesukamu.” (HR. Bukhari). Malu adalah benteng akhlak. Tanpa rasa malu, manusia akan kehilangan arah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!