VISI | Pengikut Nabi SAW Bukan?
Oleh Aep S. Abdullah
DALAM sejarah peradaban manusia, tidak ada sosok yang lebih sempurna dalam akhlak dan kepemimpinan melebihi Rasulullah Muhammad SAW. Beliau diutus bukan sekadar membawa risalah, tetapi untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sebagaimana sabda beliau: "Innama bu'istu liutammima makarimal akhlaq" — “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Ini bukan sekadar slogan, melainkan misi hidup yang dijalankan dengan konsistensi dan keteladanan.
Akhlak Rasulullah SAW adalah cerminan dari Al-Qur’an. Aisyah RA pernah ditanya tentang akhlak Nabi, dan beliau menjawab, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Artinya, setiap perilaku, tutur kata, dan keputusan beliau adalah manifestasi dari wahyu. Maka, meneladani beliau berarti menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan kita.
Sayangnya, di tengah maraknya lembaga pendidikan Islam, pesantren, dan sekolah berbasis agama, kita masih menghadapi krisis akhlak. Banyak lulusan yang cerdas secara akademik, namun lemah dalam integritas. Padahal, pendidikan Islam seharusnya melahirkan generasi yang berakhlak mulia, jujur, amanah, dan adil.
Kita menyaksikan pejabat yang korup, merampok uang rakyat, hidup hedonis, dan memeras rakyat kecil. Ini bukan sekadar kegagalan individu, tetapi kegagalan sistem pendidikan yang tidak menanamkan nilai-nilai kenabian secara utuh. Rasulullah SAW adalah pemimpin yang hidup sederhana, mencintai rakyat kecil, dan tidak pernah menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian...” (QS. Al-Ahzab: 21). Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah bukan hanya teladan dalam ibadah, tetapi juga dalam sosial, ekonomi, dan politik. Maka, pemimpin yang meneladani beliau tidak akan menindas, melainkan melayani.
Kita butuh ustadz dan pendidik yang tidak silau dengan harta dan jabatan. Mereka harus menjadi teladan dalam keikhlasan, kesederhanaan, dan ketawadhuan. Sebab, anak-anak tidak hanya belajar dari buku, tetapi dari perilaku guru mereka. Jika gurunya sombong, maka muridnya akan tumbuh dengan ego yang tinggi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!