VISI | NU di Mata Gadis Katolik Tionghoa: Merawat Kebangsaan, Menjaga Peradaban
Namun, modal sosial yang besar juga membawa tanggung jawab yang besar. Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding beberapa dekade lalu.
Polarisasi politik, penyebaran disinformasi, radikalisme, kesenjangan ekonomi, perubahan iklim, perkembangan kecerdasan buatan, hingga ketegangan geopolitik global memerlukan kepemimpinan moral yang mampu menjadi penuntun masyarakat.
Dalam konteks itulah saya memandang Muktamar ke-35 memiliki arti strategis. Muktamar bukan hanya memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, melainkan juga menentukan arah pemikiran NU dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
Kepemimpinan yang lahir dari muktamar diharapkan tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga memiliki visi kebangsaan dan peradaban yang luas.
Saya berharap NU terus mengembangkan tradisi intelektual yang selama ini menjadi ciri khasnya. Pesantren bukan hanya melahirkan ulama, tetapi juga pemikir, negarawan, ekonom, akademisi, dan pemimpin masyarakat yang mampu berdialog dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.
Sebagai generasi muda, saya juga berharap NU semakin membuka ruang kolaborasi lintas agama. Tantangan bangsa tidak mungkin diselesaikan oleh satu kelompok saja. Persoalan kemiskinan, pendidikan, lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, kesehatan, hingga literasi digital membutuhkan kerja sama seluruh elemen bangsa.
Pengalaman saya berinteraksi dengan banyak sahabat Nahdliyin mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang untuk bekerja bersama demi kepentingan Indonesia. Justru di situlah saya menemukan makna sejati dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan dirawat sebagai anugerah.
Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengingatkan, "Tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu." Pesan tersebut bukan sekadar ungkapan moral, tetapi juga fondasi kehidupan kebangsaan Indonesia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!