VISI | NU di Mata Gadis Katolik Tionghoa: Merawat Kebangsaan, Menjaga Peradaban

ED
Sabtu, 18 Juli 2026 | 09:36 WIB
Bagikan
VISI | NU di Mata Gadis Katolik Tionghoa: Merawat Kebangsaan, Menjaga Peradaban

Delapan tahun telah berlalu. Persahabatan itu tetap terjaga hingga hari ini. Saya belajar bahwa dialog tidak selalu dimulai dari ruang seminar atau forum resmi, tetapi justru dari obrolan sederhana, kerja sama, dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai warga negara Indonesia yang berasal dari komunitas Katolik Tionghoa, saya memandang NU sebagai salah satu penyangga penting bagi kehidupan kebangsaan. Di tengah masyarakat yang sangat beragam, kehadiran organisasi yang mampu menjembatani perbedaan merupakan modal sosial yang tidak ternilai.

Sejarah Indonesia membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan, tetapi juga menjaga republik ketika menghadapi berbagai krisis. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting yang menggerakkan perlawanan rakyat mempertahankan kemerdekaan. Pada masa-masa berikutnya, NU terus hadir dalam berbagai momentum kebangsaan, baik dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun pembangunan demokrasi.

Salah satu keputusan paling visioner dalam perjalanan NU adalah kembali ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo tahun 1984. Keputusan tersebut menegaskan kembali posisi NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang mengutamakan pelayanan kepada umat serta kemaslahatan bangsa. 

Langkah itu membuka ruang yang lebih luas bagi NU untuk menjalankan fungsi sebagai perekat sosial di tengah dinamika politik nasional.
Keputusan kembali ke Khittah juga menunjukkan kedewasaan organisasi. NU memilih membangun bangsa melalui pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, penguatan pesantren, pelayanan sosial, dan pembinaan kehidupan keagamaan yang damai. Pilihan inilah yang membuat NU tetap relevan hingga memasuki abad kedua pengabdiannya.

Dalam kajian ilmu sosial, ilmuwan politik dari Universitas Harvard, Robert D. Putnam, menjelaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh social capital atau modal sosial, yakni jaringan kepercayaan, kerja sama, dan solidaritas masyarakat. Jika teori ini digunakan untuk membaca Indonesia, maka NU merupakan salah satu produsen modal sosial terbesar yang dimiliki bangsa ini. Jutaan jamaah, ribuan pesantren, lembaga pendidikan,  organisasi kepemudaan, organisasi perempuan, hingga jaringan ulama di berbagai pelosok merupakan kekuatan sosial yang luar biasa.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.