VISI | NU di Mata Gadis Katolik Tionghoa: Merawat Kebangsaan, Menjaga Peradaban

ED
Sabtu, 18 Juli 2026 | 09:36 WIB
Bagikan
VISI | NU di Mata Gadis Katolik Tionghoa: Merawat Kebangsaan, Menjaga Peradaban

Oleh Vanessa Shania

  • Kepala Departemen Lintas Agama Alpenindo (Alumni Penabur Indonesia). 
  • Magister Kenotariatan Universitas Indonesia (UI). 

PADA tanggal 27–31 Agustus 2026, keluarga besar Nahdlatul Ulama akan menyelenggarakan Muktamar ke-35 di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Bagi jutaan warga Nahdliyin, muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi organisasi untuk menentukan arah perjuangan lima tahun ke depan. 

Namun, bagi saya—seorang perempuan muda Katolik keturunan Tionghoa—muktamar ini juga menghadirkan ruang refleksi mengenai arti penting Nahdlatul Ulama bagi masa depan Indonesia yang majemuk.

Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa seorang Katolik tertarik mengikuti dinamika Nahdlatul Ulama? Pertanyaan itu sangat wajar. Akan tetapi, pengalaman hidup sering kali mempertemukan seseorang dengan kenyataan yang melampaui sekat-sekat identitas.

Perkenalan saya dengan Nahdlatul Ulama bermula pada tahun 2018, ketika masih menjadi siswi SMA Kristen 1 BPK Penabur Bandung. Saat itu saya menyusun karya tulis ilmiah berjudul "Kontribusi Nahdlatul Ulama Setelah Kembali ke Khittah 1926 terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara pada Masa Orde Baru (1984–1998)."

Untuk menyelesaikan penelitian tersebut, saya melakukan observasi dan wawancara di lingkungan PWNU Jawa Barat. Awalnya, penelitian itu sekadar tugas akademik. Namun, semakin banyak berdialog dengan para kiai, pengurus, aktivis, dan kader muda NU, semakin saya memahami bahwa organisasi ini jauh lebih besar daripada sekadar organisasi keagamaan.

Saya melihat NU sebagai sebuah gerakan sosial, pendidikan, kebudayaan, dan kebangsaan yang tumbuh dari denyut kehidupan masyarakat Indonesia. Penelitian tersebut kemudian menjadi salah satu karya tulis terbaik di sekolah saya. Namun, penghargaan itu bukanlah pencapaian terbesar. Yang paling berharga adalah persahabatan yang terjalin dengan banyak sahabat Nahdliyin, baik dari IPPNU, GP Ansor, maupun berbagai badan otonom NU lainnya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.