VISI | Noel, From Zero to Zero
Timeline hukumnya makin menyesakkan. Setelah ditangkap Kamis malam, Jumat pagi Noel resmi diumumkan tersangka. Sabtu, aset-asetnya disita. Senin depan, ia dijadwalkan jalani pemeriksaan lanjutan. Lalu, paling cepat dua pekan lagi, KPK akan melimpahkan berkas ke Kejaksaan. Proses hukum cepat ini disebut-sebut karena bukti yang sudah terlalu terang benderang.
Masyarakat pun heran, bagaimana bisa orang yang mengaku berjuang untuk pekerja justru merampok di sektor yang sama? Bukankah sertifikat K3 itu syarat wajib demi keselamatan buruh di lapangan? Alih-alih memperjuangkan hak pekerja, Noel justru memperjualbelikan dokumen keselamatan. Satire sejarah bagi pekerja benar-benar menemukan tokoh barunya.
Kalangan DPR pun terhenyak. Beberapa legislator dari Komisi IX terang-terangan menyindir. “Kalau begini, wajar buruh demo terus. Bukan hanya soal upah, ternyata nyawa mereka pun dijadikan bisnis,” kata seorang anggota dewan. Komentar ini langsung viral karena menggambarkan betapa bobroknya tata kelola di kementerian.
Publik di medsos lebih kejam lagi. Meme Noel bertebaran: dari gambar “From Hero to Zero”, sampai editan foto dirinya sedang memegang borgol bertuliskan “K3: Korupsi, Kolusi, Konsesi.” Satire netizen ternyata lebih pedas daripada kolom opini koran nasional.
Di sisi lain, pemerintah harus bergerak cepat. Posisi Wakil Menaker yang kosong praktis akan diisi plt. Presiden Prabowo, yang dikenal tegas soal korupsi, belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun rumor politik beredar: posisi Noel akan diisi oleh kader partai lain yang lebih loyal. Politik memang tidak mengenal belas kasihan.
Pengamat hukum pidana dari UGM, Retno Mardiani, menegaskan: “KPK punya momentum untuk menunjukkan taringnya. Kasus ini tidak sekadar korupsi kecil, tapi menyangkut keselamatan pekerja. Harus dihukum maksimal agar ada efek jera.” Ucapannya mendapat banyak dukungan publik.
Ironinya, saat proses hukum mulai berjalan, Noel kabarnya justru dilarikan ke rumah sakit. Informasi yang beredar, konon katanya gula darahnya naik drastis setelah ditetapkan tersangka. Satire politik Indonesia memang selalu lengkap: begitu ditangkap, mendadak sakit. Publik pun menyindir, “Sehat saat merampok, sakit saat ditangkap.”
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!