VISI | Muhasabah Pendidikan

Desi Rossilawati
Selasa, 10 Maret 2026 | 08:42 WIB
Bagikan
VISI | Muhasabah Pendidikan
Oleh Drajat RAMADAN selalu datang dengan pesan yang sama: berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, menundukkan ego, dan melihat diri sendiri dengan jujur. Dalam tradisi Islam, momentum ini dikenal dengan muhasabah sebuah proses introspeksi mendalam untuk menilai apa yang telah kita lakukan, apa yang telah kita capai, dan ke mana arah langkah kita selanjutnya. Muhasabah bukan hanya milik individu. Ia juga berlaku bagi keluarga, masyarakat, bahkan bangsa. Jika manusia perlu mengevaluasi dirinya, maka bangsa pun perlu melakukan hal yang sama. Dan salah satu sektor yang paling layak menjadi objek muhasabah adalah pendidikan. Sebab pendidikan adalah cermin masa depan bangsa. Pertanyaannya sederhana namun mendalam: ke mana arah pendidikan Indonesia sedang berjalan? Tidak banyak generasi muda yang mengetahui bahwa pada masa tertentu, pendidikan Indonesia pernah menjadi rujukan bagi negara lain di kawasan Asia Tenggara. Pada dekade 1970-an hingga awal 1980-an, Indonesia memiliki reputasi yang cukup kuat dalam bidang pendidikan dasar dan pengembangan guru. Kala itu, banyak guru Indonesia diundang ke Malaysia untuk memberikan pelatihan, workshop, bahkan membantu mengembangkan sistem pembelajaran. Guru-guru Indonesia dikenal memiliki kompetensi pedagogik yang baik, dedikasi tinggi, serta kemampuan mengajar yang kuat. Lembaga pendidikan guru seperti SPG dan IKIP menjadi pilar penting dalam menyiapkan tenaga pendidik yang profesional. Namun sejarah sering berjalan dengan cara yang tidak selalu kita harapkan. Perlahan tapi pasti, Malaysia melakukan pembenahan sistem pendidikan secara serius, konsisten, dan berkelanjutan. Mereka memiliki arah kebijakan yang relatif stabil. Program reformasi pendidikan dijalankan secara bertahap tetapi berkesinambungan. Sementara itu, di Indonesia, perjalanan pendidikan justru sering terasa seperti berjalan di atas pasir yang mudah berubah bentuk.

Ketika Pendidikan Kehilangan Arah

Salah satu kritik paling sering terdengar dalam dunia pendidikan Indonesia adalah ungkapan yang hampir menjadi pepatah: “Ganti menteri, ganti kurikulum.” Ungkapan ini tentu tidak sepenuhnya mutlak benar. Namun ia menggambarkan sebuah kegelisahan nyata di kalangan guru dan praktisi pendidikan. Mulai dari Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, KBK, KTSP, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka. Setiap perubahan tentu membawa semangat pembaruan. Namun dalam praktiknya, perubahan yang terlalu cepat sering kali membuat para guru di lapangan harus beradaptasi tanpa cukup waktu untuk memahami secara mendalam. Belum lagi persoalan teknis yang sering muncul. Belum tuntas satu kebijakan diterapkan, sudah muncul kebijakan baru. Belum sempat guru memahami sepenuhnya suatu pendekatan pembelajaran, tiba-tiba muncul istilah dan sistem baru. Dalam situasi seperti ini, yang sering kali terjadi adalah kebingungan kolektif. Guru bingung. Sekolah bingung. Bahkan siswa dan orang tua pun sering tidak memahami arah perubahan yang sedang terjadi. Dalam beberapa waktu terakhir, dunia pendidikan kembali dihadapkan pada sejumlah kebijakan yang memunculkan pertanyaan di berbagai kalangan. Salah satunya adalah Tes Kemampuan Akademik (TKA). Di satu sisi, TKA dimaksudkan sebagai instrumen untuk mengukur capaian akademik siswa secara lebih objektif. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai bagaimana posisi TKA dalam sistem evaluasi pendidikan nasional. Apakah ia akan menggantikan bentuk asesmen sebelumnya? Apakah ia akan menjadi standar kelulusan? Ataukah sekadar alat pemetaan kemampuan siswa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga kini masih menimbulkan diskusi panjang di kalangan praktisi pendidikan. Belum lagi persoalan status dan kesejahteraan guru. Istilah Guru PPPK Paruh Waktu misalnya, menjadi bahan perbincangan yang cukup hangat. Bagi sebagian guru, istilah ini menimbulkan kekhawatiran baru mengenai kepastian profesi dan masa depan karier mereka. Padahal kita semua sepakat bahwa guru adalah jantung pendidikan. Jika jantungnya tidak sehat, maka sistem pendidikan sulit berjalan dengan baik. Di tengah berbagai persoalan kebijakan tersebut, dunia juga sedang mengalami perubahan besar yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kemajuan teknologi berkembang dengan sangat cepat. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) kini mampu menulis esai, menjawab soal matematika, membuat program komputer, bahkan menghasilkan karya seni dan musik. AI perlahan mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berpikir. Dalam dunia pendidikan, perubahan ini menghadirkan dua sisi sekaligus. Di satu sisi, teknologi memberikan peluang luar biasa untuk memperluas akses belajar. Siswa dapat belajar dari mana saja, kapan saja, dengan sumber informasi yang hampir tidak terbatas. Namun di sisi lain, teknologi juga membawa tantangan besar. Jika pendidikan hanya berfokus pada hafalan informasi, maka peran sekolah bisa tergeser oleh mesin. Jika pendidikan hanya menekankan pada nilai ujian, maka siswa akan mencari cara tercepat untuk mendapatkan jawaban—termasuk dengan bantuan AI. Inilah tantangan besar pendidikan masa depan. Sekolah tidak lagi cukup hanya menjadi tempat transfer pengetahuan. Sekolah harus menjadi tempat membentuk karakter, membangun daya pikir kritis, serta menumbuhkan kebijaksanaan dalam menggunakan ilmu pengetahuan.

Muhasabah Pendidikan

Di sinilah pentingnya melakukan muhasabah pendidikan. Muhasabah berarti berani melihat kenyataan dengan jujur. Bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk menemukan jalan perbaikan. Ada beberapa pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama: Apakah pendidikan kita masih berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya? Apakah sekolah benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa untuk belajar? Apakah kebijakan pendidikan benar-benar lahir dari kebutuhan nyata di lapangan? Muhasabah pendidikan juga berarti kembali kepada nilai-nilai dasar pendidikan itu sendiri. Dalam tradisi bangsa Indonesia, pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk karakter dan moral. Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Artinya pendidikan bukan sekadar soal kurikulum atau sistem evaluasi. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Jika muhasabah telah dilakukan, maka langkah berikutnya adalah menata arah masa depan. Ada beberapa prinsip penting yang perlu menjadi perhatian dalam membangun pendidikan Indonesia ke depan. Pertama, konsistensi kebijakan. Pendidikan memerlukan stabilitas. Perubahan memang perlu, tetapi harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Kedua, penguatan peran guru. Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum. Guru adalah pemimpin pembelajaran. Investasi terbesar dalam pendidikan seharusnya diberikan kepada peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru. Ketiga, pendidikan karakter. Di era kecerdasan buatan, karakter manusia justru menjadi semakin penting. Nilai kejujuran, tanggung jawab, empati, dan integritas tidak bisa digantikan oleh mesin. Keempat, literasi masa depan. Literasi tidak lagi sekadar membaca dan menulis. Literasi masa depan mencakup literasi digital, literasi data, literasi teknologi, dan literasi kemanusiaan. Ramadan mengajarkan bahwa perubahan selalu dimulai dari diri sendiri. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kedisiplinan, kejujuran, dan kesadaran diri. Jika nilai-nilai Ramadan benar-benar kita hayati, maka semangat tersebut seharusnya juga tercermin dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang jujur. Pendidikan yang berintegritas. Pendidikan yang berorientasi pada kemaslahatan bangsa. Muhasabah pendidikan bukan sekadar wacana akademik. Ia adalah panggilan moral bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan pemerintah, guru, akademisi, orang tua, dan masyarakat. Sebab masa depan bangsa ini sedang dipersiapkan di ruang-ruang kelas hari ini. Meski berbagai tantangan masih menghadang, harapan untuk pendidikan Indonesia tidak pernah padam. Di berbagai pelosok negeri, masih banyak guru yang mengajar dengan penuh dedikasi. Masih banyak sekolah yang berjuang menghadirkan pembelajaran bermakna bagi siswanya. Harapan itu hidup. Namun harapan saja tidak cukup. Ia perlu disertai keberanian untuk melakukan perubahan yang lebih mendasar, lebih konsisten, dan lebih berorientasi pada masa depan. Ramadan mengajarkan satu hal penting: Bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran diri. Mungkin inilah saat yang tepat bagi kita semua untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan panjang pendidikan negeri ini, lalu bertanya dengan jujur: Apakah kita sudah berjalan di jalan yang benar? Jika jawabannya belum sepenuhnya, maka tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki arah. Sebab pendidikan bukan sekadar tentang hari ini. Pendidikan adalah tentang masa depan bangsa.*

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.