VISI | Mindset: Kunci Sukses yang Tak Terlihat
Oleh Aep S. Abdullah
DULU, di samping kantor PLN APJ Majalaya, di Baleendah, Kabupaten Bandung ada seorang penjual bubur ayam yang setiap pagi selalu ramai pembeli. Suasana pagi itu, dengan udara yang masih segar, dipenuhi dengan tawa dan obrolan ringan para pelanggan yang tengah menikmati seporsi bubur ayam. "Pak, sudah berapa lama jualan bubur? Bisa ramai begini," tanya saya dengan rasa ingin tahu.
"Ah, baru satu tahun," jawab pria yang berusia sekira enam puluhan itu. Ia menjual bubur ayam ditemani cucunya yang masih duduk di bangku SMA, seorang gadis berkerudung, rajin membantu melayani pembeli. Tak ada yang istimewa dari penampilannya. Layaknya pengelola dagangan kaki lima. Namun, ketika pria itu melanjutkan ceritanya, saya terkejut. "Dulu saya itu TNI, pangkat terakhir saya Kapten," ungkapnya dengan senyum.
Saya terhenyak mendengar pengakuannya. Seorang mantan perwira di militer, yang dulunya biasa dihormati dan dihargai, kini beralih menjadi pedagang kaki lima atau PKL. Bagi saya, ini adalah sebuah perjalanan yang luar biasa—perubahan dari kehidupan yang penuh dengan kehormatan dan pengabdian menjadi kehidupan yang jauh dari itu. Sebuah kehidupan sederhana, namun sarat akan pelajaran.
Perubahan itu bukanlah hal yang mudah. "Saya lepaskan pola pikir dulu," katanya lagi. "Sekarang jiwa saya, jiwa pedagang. Kalau saya masih membawa jiwa lama, pasti sulit membuat banyak pembeli datang ke sini." Sebuah pengakuan tentang betapa kuatnya mindset yang ia bangun. Hakikatnya, ia tengah ibadah ghairu mahdhah. Tengah mengimplementasikan ajaran Rasulullah SAW yakni berdagang. Dan, usaha dagang yang baik menurut Rasulullah adalah yang didasari keikhlasan karena Allah, kejujuran, amanah, dan keadilan.
Seperti yang ia ceritakan, menjadi seorang pedagang bukan hanya soal menjual barang atau jasa. Itu tentang bagaimana kita merombak cara berpikir, menanggalkan ego, dan menempatkan diri sebagai pelayan yang siap membantu siapa saja yang datang. Pedagang itu, katanya, harus melayani dengan sepenuh hati. Melayani dengan hati. Bukan lagi soal jabatan, bukan soal siapa kita dulu. Tetapi, soal bagaimana kita bisa memberi manfaat bagi orang lain.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!