VISI | Milenial : Ngontrak atau KPR ?
Ada kelebihan lain dari menyewa: fleksibilitas. Ketika ada kesempatan kerja di tempat baru, tinggal pindah. Usia muda pun jadi pertimbangan: “Ngapain beli rumah di pinggiran, jauh dari tempat kerja, kalau nanti juga pindah kota?” ujar seorang profesional muda yang kini tinggal di kontrakan strategis di dekat kantornya di Kota Bandung.
Lebih dari itu, menyewa memberi ruang untuk memprioritaskan investasi lain yang lebih likuid: Emas, krypto, saham, reksa dana, bisnis digital bahkan UMKM. Banyak anak muda sekarang yang berprinsip: lebih baik uang 500 juta atau 1 miliar dipegang dan dikembangkan, daripada dikunci dalam sebidang tanah yang belum tentu naik signifikan nilainya.
Tentu tidak semua menolak ide membeli rumah. Tapi waktunya dimundurkan. Mereka yang sudah berkeluarga pun mulai berpikir matang: nanti beli rumah saat pensiun saja, di kota yang tenang dan sesuai kebutuhan, seperti dekat sawah atau pegunungan untuk berkebun atau beternak.
Mereka sadar, kebutuhan hari ini berbeda dengan esok. Karena itu, gaya hidup mereka disesuaikan. Kontrakan tetap dipilih sesuai anggaran. Budgeting ketat, pencatatan rapi. Mobil dipakai hanya saat benar-benar perlu. Motor jadi andalan harian. Jalan-jalan tetap ada, tapi dengan perhitungan. Intinya: hidup harus seimbang, bukan sekadar mengejar ilusi kepemilikan.
Secara makro, pergeseran ini juga sinyal penting bagi developer properti. Generasi hari ini tak bisa lagi dipikat hanya dengan brosur cantik dan janji harga naik. Mereka menuntut fleksibilitas, efisiensi, dan keberlanjutan. Bahkan, mereka lebih peduli pada jarak ke tempat kerja, fasilitas publik, dan kualitas hidup daripada sekadar luas bangunan.
Contoh dari negara maju belakangan ini menunjukkan tren serupa. Di Jerman dan Swiss misalnya, berdasarkan data lebih dari 50% penduduknya memilih menyewa ketimbang membeli. Mengapa? Karena mobilitas tinggi, dan perencanaan keuangan jangka panjang dianggap lebih penting daripada simbol status sosial.
Lalu, apakah ini artinya impian rumah sendiri sirna? Tidak juga. Hanya saja, rumah tak lagi dipandang sebagai satu-satunya indikator kesuksesan. Rumah adalah tujuan, bukan keharusan sekarang juga. Banyak yang menyimpan target beli rumah, tapi memilih waktu yang lebih matang—baik secara finansial maupun psikologis.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!