Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Truk Masuk Jurang Cisarakan Sukabumi, Sopir Tewas 26 Aug 2026 Kabut Asap Karhutla Jambi Makin Pekat, Ganggu Kesehatan dan Sekolah 26 Aug 2026 SMA Taruna Nusantara Buka Rekrutmen P3 2026, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Truk Masuk Jurang Cisarakan Sukabumi, Sopir Tewas 26 Aug 2026 Kabut Asap Karhutla Jambi Makin Pekat, Ganggu Kesehatan dan Sekolah 26 Aug 2026 SMA Taruna Nusantara Buka Rekrutmen P3 2026, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

VISI | Mengembalikan Marwah Literasi

ED
Senin, 13 Oktober 2025 | 06:47 WIB
Bagikan
VISI | Mengembalikan Marwah Literasi

Pemerintah juga perlu memastikan keberlanjutan anggaran literasi, bukan menjadikannya proyek tahunan. Literasi harus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional, termasuk dalam penilaian kinerja sekolah dan guru.

Mengembalikan Marwah Literasi

Mengembalikan marwah literasi berarti mengembalikan ruh pendidikan itu sendiri. Literasi bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan cermin kualitas berpikir dan karakter bangsa. Ia adalah fondasi moral dan intelektual yang membuat manusia beradab.

Sebagai guru dan penggerak literasi, penulis sering menyaksikan betapa besar perubahan yang terjadi ketika siswa mulai terbiasa membaca dan menulis. Mereka menjadi lebih percaya diri, lebih kritis, dan lebih empatik. Mereka tidak hanya pandai menjawab, tetapi juga pandai bertanya. Dan itulah tanda-tanda bangsa yang hidup.

Oleh karena itu, gerakan literasi harus dimulai dari diri sendiri, dari ruang-ruang kelas, dari rumah, dan dari kebijakan yang berpihak pada kecerdasan. Pemimpin yang visioner seharusnya tidak sibuk membagi kue kekuasaan, melainkan membagi ilmu dan inspirasi.

Jika kita ingin Indonesia menjadi bangsa besar, maka mari mulai dengan langkah kecil: membaca lima menit setiap hari, menulis satu paragraf setiap pagi, dan berbagi satu ide setiap kesempatan. Dari kebiasaan sederhana itulah lahir peradaban.

Karena sejatinya, bangsa yang berhenti membaca adalah bangsa yang berhenti berpikir, dan bangsa yang berhenti berpikir adalah bangsa yang perlahan kehilangan masa depannya.***

  • Doktor Ilmu Pendidikan, Wasekjen Komnasdik, Hipnoterapis, serta Guru SMP N 1 Cangkuang, Kab. Bandung

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.