VISI | Mengembalikan Marwah Literasi
Pemerintah juga perlu memastikan keberlanjutan anggaran literasi, bukan menjadikannya proyek tahunan. Literasi harus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional, termasuk dalam penilaian kinerja sekolah dan guru.
Mengembalikan Marwah Literasi
Mengembalikan marwah literasi berarti mengembalikan ruh pendidikan itu sendiri. Literasi bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan cermin kualitas berpikir dan karakter bangsa. Ia adalah fondasi moral dan intelektual yang membuat manusia beradab.
Sebagai guru dan penggerak literasi, penulis sering menyaksikan betapa besar perubahan yang terjadi ketika siswa mulai terbiasa membaca dan menulis. Mereka menjadi lebih percaya diri, lebih kritis, dan lebih empatik. Mereka tidak hanya pandai menjawab, tetapi juga pandai bertanya. Dan itulah tanda-tanda bangsa yang hidup.
Oleh karena itu, gerakan literasi harus dimulai dari diri sendiri, dari ruang-ruang kelas, dari rumah, dan dari kebijakan yang berpihak pada kecerdasan. Pemimpin yang visioner seharusnya tidak sibuk membagi kue kekuasaan, melainkan membagi ilmu dan inspirasi.
Jika kita ingin Indonesia menjadi bangsa besar, maka mari mulai dengan langkah kecil: membaca lima menit setiap hari, menulis satu paragraf setiap pagi, dan berbagi satu ide setiap kesempatan. Dari kebiasaan sederhana itulah lahir peradaban.
Karena sejatinya, bangsa yang berhenti membaca adalah bangsa yang berhenti berpikir, dan bangsa yang berhenti berpikir adalah bangsa yang perlahan kehilangan masa depannya.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!