VISI | Mengembalikan Marwah Literasi
Dalam suasana yang seperti ini, literasi jelas tidak mendapat tempat. Tidak ada kebijakan yang sungguh-sungguh berpihak pada penguatan budaya membaca dan menulis. Padahal, tanpa literasi, bangsa kehilangan daya nalar; masyarakat mudah diprovokasi, berita bohong mudah dipercaya, dan kebijakan publik sering kehilangan arah karena kurangnya basis pengetahuan.
Lebih menyedihkan lagi, krisis literasi ini justru tampak nyata di lembaga yang seharusnya menjadi pusatnya: sekolah. Di banyak sekolah, kegiatan membaca masih dianggap beban tambahan, bukan kebutuhan. Guru dan kepala sekolah sibuk dengan administrasi, sementara peserta didik diarahkan untuk mengejar nilai, bukan pengetahuan.
Budaya bertanya dan berdiskusi jarang ditumbuhkan. Perpustakaan sekolah kadang hanya menjadi ruang penyimpanan buku usang, bukan ruang inspirasi. Buku-buku yang tersedia tidak menarik, tidak terurus, bahkan kadang terkunci rapat karena dianggap barang inventaris yang harus dijaga, bukan dibaca.
Celakanya, banyak kepala sekolah tidak memahami esensi literasi. Mereka lebih senang mempercantik tampilan sekolah daripada menumbuhkan budaya berpikir. Maka, jangan heran jika banyak siswa yang hanya sibuk menghafal, tetapi tidak memahami apa yang dihafalnya.
Jika bangsa ini sungguh-sungguh ingin memajukan diri, literasi harus menjadi gerakan nasional yang konkret, bukan slogan. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, perlu membuat regulasi yang tegas, sistematis, dan membumi.
Misalnya, setiap sekolah wajib menerapkan program membaca dan menulis lima menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai. Kegiatan sederhana ini bisa menjadi pintu masuk perubahan besar. Setiap peserta didik membaca satu halaman buku setiap hari, kemudian menuliskan ringkasan atau refleksinya. Guru pun dapat melakukan hal yang sama. Dalam satu tahun, bayangkan berapa banyak halaman yang terbaca dan berapa banyak ide yang tumbuh.
Lebih dari itu, perlu dibangun sistem evaluasi literasi yang berkelanjutan. Tidak cukup dengan lomba-lomba, tetapi dengan pendampingan, pelatihan menulis, dan penyediaan bahan bacaan yang menarik dan relevan dengan dunia anak. Perpustakaan sekolah perlu ditata ulang sebagai “ruang hidup”, bukan gudang buku.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!