VISI | Membangun Bangsa Dimulai dari Guru
Mu’ti Mengingatkan: Kita Memiliki Luka Literasi yang Tak Kunjung Sembuh
Pernyataan Mu’ti dalam Munas IKAPI 2025 seharusnya menjadi alarm nasional. Ia menyinggung rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia. Di sekolah, banyak siswa hanya mahir menonton, tetapi kesulitan memahami teks. Di ruang publik, diskusi dipenuhi komentar instan tanpa membaca isi, apalagi menuliskannya kembali dengan pemahaman. Ia juga menyinggung satu masalah klasik yang sering disembunyikan: guru terlalu dibebani administrasi. Energi terbaik guru sering habis untuk laporan rutin, bukan untuk membaca atau menulis. Padahal, hanya guru yang kuat literasinya yang mampu melahirkan generasi kuat.
Menulis: Identitas Profesional Guru yang Terlupakan
Menulis bukan sekadar aktivitas akademik ia adalah cermin profesionalisme. Guru yang menulis: lebih reflektif, lebih kreatif, lebih adaptif, lebih peka terhadap kebutuhan belajar murid, dan lebih berani memperbaiki praktik pendidikan.
Menulis membantu guru menemukan suara intelektualnya. Ia juga menjadi warisan pengetahuan untuk murid-muridnya. Bahkan satu tulisan pendek setiap minggu dapat menciptakan perubahan besar dalam cara guru mengajar dan berpikir. Bayangkan jika satu juta guru di Indonesia menulis minimal satu halaman refleksi setiap bulan. Dalam setahun, kita memiliki 12 juta gagasan yang memperkaya dunia pendidikan Indonesia. Itu bukan utopia, itu mungkin, jika budaya menulis dimulai dari guru.
Menutup Jurang Antara Seruan dan Keteladanan
Kita sering melihat kampanye literasi yang megah: gerakan membaca 15 menit, lomba resensi, kelas menulis, hingga program literasi berbasis sekolah. Namun kampanye tidak akan bertahan jika keteladanan tidak hadir. Guru bisa mengubah budaya literasi bangsa, tetapi hanya jika ia: (1) membaca secara rutin, (2) menulis secara konsisten, (3) menghidupkan kelas dengan gagasan, (4) dan menunjukkan bahwa literasi adalah gaya hidup, bukan tugas.
Tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” hanya akan menjadi kenyataan jika guru kembali menyentuh pena, membuka buku, dan memulai kebiasaan sederhana yang membentuk generasi literat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!