VISI | Melawan Lupa

ED
Jumat, 14 November 2025 | 05:00 WIB
Bagikan
VISI | Melawan Lupa

Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi pondasi utama pembangunan bangsa, kini justru sering dikelola dengan cara yang jauh dari semangat pendidikan itu sendiri. Jabatan strategis diisi bukan berdasarkan kompetensi, melainkan karena kedekatan — kedekatan partai, keluarga, atau transaksi yang tak kasat mata. Seolah negeri ini lupa, bahwa masa depan bangsa tidak bisa dibangun dari “siapa yang dikenal,” melainkan dari “siapa yang mampu.”

Yang lebih menyedihkan, potensi luar biasa di daerah sering terabaikan. Banyak putra-putri daerah yang cerdas, berdedikasi, dan paham betul karakter masyarakatnya, justru dibiarkan tersisih. Mereka kalah oleh orang-orang luar yang datang membawa nama besar, proyek besar, tapi hasilnya kecil. Keberadaan mereka hanya menjadi kosmetik kebijakan — lipstik yang mempercantik laporan, tapi tidak menyentuh akar persoalan.

Pendidikan sejatinya adalah ruang suci — tempat membangun manusia, bukan sekadar mencetak angka statistik. Namun kini, di banyak daerah, pendidikan telah menjadi komoditas politik. Setiap proyek, setiap pertemuan, setiap seminar, dihitung dalam nilai kontrak, bukan nilai manfaat.

Guru-guru berjuang dalam diam, mengajar dengan keterbatasan, mencetak generasi di ruang kelas yang bocor, sementara pemimpinnya sibuk berfoto dengan latar belakang mural bertuliskan “Transformasi Pendidikan.” Betapa kontras antara slogan dan kenyataan.

Apakah mereka lupa bahwa dulu, di masa kecilnya, seorang guru dengan sabar mengajarkan mereka membaca, menulis, berhitung, bahkan menanamkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab? Kini, ketika mereka duduk di kursi empuk kekuasaan, tak sedikit dari mereka justru menindas suara guru, memotong anggaran pendidikan, bahkan menutup telinga terhadap aspirasi mereka.

Guru bukan hanya pengajar, tapi penjaga peradaban. Namun, penghormatan terhadap profesi ini semakin pudar. Seolah “pahlawan tanpa tanda jasa” hanya pantas disebut di upacara Hari Guru — bukan di kebijakan nyata.

Setiap daerah memiliki jejak sejarah, kisah perjuangan rakyat kecil, dan dedikasi pendidik di pelosok negeri. Namun, jejak-jejak itu mulai terhapus oleh generasi yang tidak mau membaca sejarahnya sendiri. Di banyak tempat, monumen perjuangan guru, pejuang lokal, bahkan sekolah-sekolah tua yang menjadi saksi lahirnya pendidikan rakyat, kini terbengkalai.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.