VISI | Melawan Lupa
Oleh Drajat
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Idonesia
- Guru SMP N 1 Cangkuang, Kab. Bandung
ENTAH sampai kapan negeri ini melupakan sejarah. Padahal, Bung Karno telah mengingatkan dengan suara yang menggema melintasi zaman: “Jasmerah — Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.” Kalimat itu seharusnya menjadi mantra kebangsaan, pengingat abadi bagi mereka yang kini duduk di kursi kekuasaan. Namun, di tengah gegap gempita pembangunan, di antara tumpukan proyek dan janji-janji yang terselip di balik podium politik, pesan itu seolah lenyap ditelan tepuk tangan seremonial.
Khusus di dunia pendidikan, “melupakan sejarah” menjadi penyakit yang menggerogoti idealisme dan kejujuran. Pemimpin pusat hingga daerah, anggota dewan yang terhormat, mereka yang dulu pernah berdiri di depan rakyat dengan semangat perubahan, kini banyak yang terjebak pada euforia kekuasaan. Saat belum menjadi apa-apa, mereka begitu berapi-api bicara tentang masa depan bangsa, tentang pendidikan gratis, guru sejahtera, dan murid cerdas berkarakter. Namun, saat jabatan sudah digenggam, kata-kata itu menguap seperti embun di pagi hari.
Penulis masih ingat suatu hari, diundang dalam acara silaturahmi beberapa tokoh politik dan pemimpin daerah. Mereka datang dengan wajah ramah, tangan terbuka, dan tutur kata penuh sopan santun. “Kami butuh dukungan bapak-ibu semua,” kata mereka. “Kami ingin membawa perubahan, terutama dalam dunia pendidikan.” Nomor ponsel pribadi mereka dibagikan dengan senyum dan janji: “Silakan hubungi kapan saja, kami siap menerima aspirasi rakyat.”
Namun, apa yang terjadi setelahnya? Pesan demi pesan dikirim, tidak untuk meminta, tapi memberi masukan — saran untuk kemajuan daerah. Sayangnya, tidak satu pun dibalas. Bahkan dibaca pun tidak. Ironi yang menyakitkan: ketika rakyat berbicara, penguasa memilih bungkam.
Lupa yang Terencana
Melupakan janji ternyata bisa menjadi bagian dari strategi. Lupa bukan lagi kelalaian, tapi kebiasaan yang terencana. Lupa kepada rakyat, lupa kepada guru, lupa kepada sejarah perjuangan yang melahirkan mereka. Mereka lebih ingat pesta, proyek, dan kepentingan politik jangka pendek.
Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi pondasi utama pembangunan bangsa, kini justru sering dikelola dengan cara yang jauh dari semangat pendidikan itu sendiri. Jabatan strategis diisi bukan berdasarkan kompetensi, melainkan karena kedekatan — kedekatan partai, keluarga, atau transaksi yang tak kasat mata. Seolah negeri ini lupa, bahwa masa depan bangsa tidak bisa dibangun dari “siapa yang dikenal,” melainkan dari “siapa yang mampu.”
Yang lebih menyedihkan, potensi luar biasa di daerah sering terabaikan. Banyak putra-putri daerah yang cerdas, berdedikasi, dan paham betul karakter masyarakatnya, justru dibiarkan tersisih. Mereka kalah oleh orang-orang luar yang datang membawa nama besar, proyek besar, tapi hasilnya kecil. Keberadaan mereka hanya menjadi kosmetik kebijakan — lipstik yang mempercantik laporan, tapi tidak menyentuh akar persoalan.
Pendidikan sejatinya adalah ruang suci — tempat membangun manusia, bukan sekadar mencetak angka statistik. Namun kini, di banyak daerah, pendidikan telah menjadi komoditas politik. Setiap proyek, setiap pertemuan, setiap seminar, dihitung dalam nilai kontrak, bukan nilai manfaat.
Guru-guru berjuang dalam diam, mengajar dengan keterbatasan, mencetak generasi di ruang kelas yang bocor, sementara pemimpinnya sibuk berfoto dengan latar belakang mural bertuliskan “Transformasi Pendidikan.” Betapa kontras antara slogan dan kenyataan.
Apakah mereka lupa bahwa dulu, di masa kecilnya, seorang guru dengan sabar mengajarkan mereka membaca, menulis, berhitung, bahkan menanamkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab? Kini, ketika mereka duduk di kursi empuk kekuasaan, tak sedikit dari mereka justru menindas suara guru, memotong anggaran pendidikan, bahkan menutup telinga terhadap aspirasi mereka.
Guru bukan hanya pengajar, tapi penjaga peradaban. Namun, penghormatan terhadap profesi ini semakin pudar. Seolah “pahlawan tanpa tanda jasa” hanya pantas disebut di upacara Hari Guru — bukan di kebijakan nyata.
Setiap daerah memiliki jejak sejarah, kisah perjuangan rakyat kecil, dan dedikasi pendidik di pelosok negeri. Namun, jejak-jejak itu mulai terhapus oleh generasi yang tidak mau membaca sejarahnya sendiri. Di banyak tempat, monumen perjuangan guru, pejuang lokal, bahkan sekolah-sekolah tua yang menjadi saksi lahirnya pendidikan rakyat, kini terbengkalai.
Melawan lupa berarti merawat ingatan. Dan ingatan itu bukan sekadar mengenang, tetapi menghidupkan kembali semangat mereka yang pernah berjuang tanpa pamrih. Seharusnya para pemimpin kita belajar dari masa lalu, dari sosok-sosok yang hidup sederhana tapi penuh dedikasi.
Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulunya?
Lalu, mengapa negeri ini justru menyanjung yang viral dan melupakan yang berjasa?
Jika saja para pemimpin mau menunduk sejenak dan datang ke ruang-ruang kelas pelosok negeri, mereka akan menemukan wajah-wajah tulus yang tidak menuntut, tapi penuh harapan. Anak-anak dengan seragam lusuh namun semangatnya menyala. Guru-guru yang datang lebih pagi dari matahari, membawa buku-buku lusuh, tapi hatinya tetap terang.
Mereka tidak menuntut gaji tinggi, tidak meminta penghargaan, hanya ingin satu hal: dihargai sebagaimana mestinya. Mereka ingin pemimpin yang benar-benar paham bahwa pendidikan bukan proyek lima tahun, tapi investasi ratusan tahun.
Melawan lupa tidak cukup dengan menulis sejarah di buku teks. Melawan lupa berarti memperbaiki arah kebijakan, menegakkan keadilan, dan menghargai perjuangan yang lahir dari kesunyian. Saat janji-janji diucapkan, ingatlah bahwa di balik setiap suara rakyat ada harapan. Saat jabatan diemban, sadarilah bahwa kekuasaan itu titipan, bukan milik pribadi.
Kita perlu pemimpin yang tidak hanya mengingat saat kampanye, tapi juga saat rakyat membutuhkan. Pemimpin yang mau turun ke lapangan tanpa kamera, mendengar tanpa harus viral, dan bekerja tanpa pamrih.
Bangsa ini butuh keberanian baru — keberanian untuk jujur, untuk berpihak pada pendidikan, dan untuk menepati janji. Karena melawan lupa berarti menghidupkan kembali
Suatu hari nanti, sejarah akan menulis ulang kisah negeri ini. Ia akan mencatat siapa yang benar-benar bekerja, dan siapa yang hanya berbicara. Ia akan mengenang guru-guru yang setia, pemimpin yang tulus, dan rakyat yang tidak berhenti berharap.
Melawan lupa bukan sekadar tugas sejarawan, tapi kewajiban moral setiap anak bangsa. Karena bangsa yang lupa asalnya akan kehilangan arah. Dan bangsa yang kehilangan arah akan berjalan tanpa tujuan.
Maka, marilah kita rawat ingatan itu. Ingat pada mereka yang dulu berdiri di depan kelas, yang menanam nilai-nilai kejujuran dan kasih sayang. Ingat pada janji-janji yang pernah terucap di hadapan rakyat. Ingat bahwa kekuasaan bukan tujuan, tapi amanah.
Melawan lupa adalah melawan keangkuhan. Melawan lupa adalah menjaga marwah kemanusiaan. Melawan lupa adalah bentuk tertinggi dari cinta pada negeri. Kita mungkin tidak mampu mengubah semuanya sekaligus, tapi kita bisa mulai dengan mengingat. Karena bangsa ini tidak akan pernah benar-benar mati, selama masih ada yang mau melawan lupa.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!