VISI | May Day: Refleksi Masa Lalu untuk Masa Depan Buruh Jawa Barat
Sabar Sitorus, sosok yang dikenal dekat dengan kalangan buruh, tak kalah meyakinkan. Dengan tutur kata yang menenangkan, ia menjamin bahwa setiap permasalahan yang disampaikan akan ditangani dengan sebaik mungkin. Bahkan, ia menyampaikan niat mulianya untuk mendedikasikan diri mengadvokasi buruh outsourcing setelah pensiun kelak. "Boleh Saudara catat, kalau pensiun nanti, saya akan mengonsentrasikan diri untuk mengadvokasi kepentingan buruh, terutama buruh outsourcing," ungkapnya dengan tulus.
Kombes Pol. Jati Wiyono pun tak ketinggalan memberikan jaminan keamanan dan keterbukaan dari pihak kepolisian. Ia menegaskan bahwa praktik makelar kasus sudah tidak lagi mendapat tempat dan kepolisian siap menerima langsung aduan dari para buruh. "Sudah tidak zamannya markus berkeliaran. Kita akan respons setiap masalah buruh. Tapi jangan pakai surat, datang langsung pada kami," imbaunya.
Dialog yang konstruktif itu pun diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh semua pihak yang hadir.
Namun, kilas balik manis dari dialog penuh harapan di tahun 2010 itu terasa kontras dengan kabar yang justru mencemaskan di peringatan Hari Buruh Internasional tahun ini. Sebuah pemandangan ironis tersaji di kawasan simpang Dago-Cikapayang, Kota Bandung, Kamis (1/5/2025), ketika bentrokan pecah antara massa berpakaian hitam dan aparat kepolisian. Batu-batu beterbangan, memecah kedamaian dan menebarkan ketakutan di tengah masyarakat.
Insiden ini tentu saja sangat disayangkan, terutama setelah puluhan buruh yang sebelumnya menggelar aksi damai menyampaikan aspirasi mereka di lokasi yang sama. Mengapa peringatan hari yang seharusnya menjadi momentum solidaritas dan perjuangan hak-hak pekerja justru ternoda oleh aksi anarkis? Apakah dialog yang dulu terasa efektif kini benar-benar kehilangan relevansinya?
Tentu saja, masalah ketenagakerjaan di Jawa Barat saat ini memerlukan perhatian yang lebih serius dari Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM). Meskipun investasi pabrik BYD di Subang diharapkan dapat menyerap ribuan tenaga kerja, realitas di sektor industri dan jasa lainnya justru menunjukkan tren PHK yang mengkhawatirkan. Bahkan, para insan media pun turut merasakan dampaknya akibat penurunan pendapatan iklan yang tergerus oleh dominasi platform digital raksasa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!