VISI | Marwah Guru
Oleh Drajat
BELAKANGAN ini, jagat pendidikan kita kembali heboh. Seorang kepala sekolah di salah satu SMA didemo oleh para siswanya sendiri, bahkan orang tua salah seorang siswa melaporkan ke pihak berwajib. Gara-garanya, seorang siswa kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Sang kepala sekolah menegur, bahkan — menurut kabar yang beredar — sempat menampar si siswa. Tak lama kemudian, kepala daerah dengan cepat mengeluarkan keputusan memberhentikan sementara kepala sekolah itu.
Ironis. Kepala sekolah yang sejatinya menjalankan tugas mendidik, justru dijatuhi sanksi tanpa pembelaan. Masyarakat menilai tindakan sang kepala sekolah berlebihan, padahal ia hanya menegakkan aturan yang disepakati bersama di awal tahun ajaran — hitam di atas putih, disetujui siswa dan orang tua. Bukankah di dalamnya jelas tertulis: “Setiap pelanggaran tata tertib memiliki konsekuensi pendidikan”?
Kita semua tahu, sekolah bukan hanya tempat belajar akademik. Ia adalah rumah kedua bagi peserta didik — tempat menumbuhkan nilai, karakter, dan kebijaksanaan hidup. Tapi hari ini, rumah itu mulai kehilangan wibawa. Murid tak lagi segan pada guru, orang tua lebih cepat percaya pada “isu” ketimbang klarifikasi, dan pejabat daerah lebih senang mencari aman politik daripada mencari kebenaran moral.
Masih ingat zaman dulu? Ketika guru menegur dengan tatapan tajam saja sudah cukup membuat kita menunduk malu. Bukan karena takut, tapi karena segan. Kita tahu teguran itu datang dari kasih sayang. Orang tua pun mengikhlaskan anaknya “dibentuk” oleh guru dengan cara yang mereka yakini tepat. Tak ada laporan ke polisi, tak ada demo berjamaah. Yang ada justru kalimat sederhana namun penuh makna: “Silakan, Pak/Bu Guru. Kami titip anak kami untuk dididik.”
Kini situasi terbalik. Sekolah lebih banyak berperan sebagai “pabrik nilai rapor,” bukan lembaga pembentuk akhlak. Guru menjadi sosok yang selalu diawasi, bahkan dicurigai. Kesalahan kecil bisa viral, lalu dihakimi tanpa konteks. Sementara, nilai luhur pendidikan — tentang kasih sayang, disiplin, tanggung jawab, dan keteladanan — terkikis oleh budaya instan dan sensasi media sosial.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!