VISI | Malaikat Pelindung (Refleksi Hari Ibu)
Ada satu hal yang jarang kita sadari: ibu sering berbohong. Namun kebohongannya bukan dosa, melainkan kemuliaan. “Ibu tidak capek.” “Ibu masih kenyang.” “Ibu baik-baik saja.”
Padahal tubuhnya ingin rebah, perutnya lapar, dan hatinya penuh beban. Ia berbohong agar anaknya tidak merasa bersalah. Ia berbohong agar anaknya tetap merasa aman. Inilah kebohongan yang tidak diajarkan, namun diwariskan dari generasi ke generasi. Kebohongan yang lahir dari cinta, bukan dari tipu daya.
Sayangnya, tidak semua kisah tentang ibu berakhir indah. Seiring waktu, banyak anak yang melupakan malaikat pelindungnya. Ada anak yang sibuk mengejar dunia, tapi lupa menanyakan kabar ibunya. Ada anak yang bangga pada pencapaian, namun malu menggandeng ibunya. Ada anak yang fasih bicara tentang kesuksesan, tetapi gagap saat diminta berbakti.
Lebih menyedihkan lagi, ada ibu yang ditinggalkan di usia senja—hidup sendiri, menunggu, berharap, dan berdoa dalam kesepian. Malaikat yang dulu melindungi, kini justru membutuhkan perlindungan.
Kita lupa bahwa dulu, saat kita tak mampu berdiri, ibu menggendong. Saat kita jatuh, ibu menguatkan. Saat kita gagal, ibu tetap percaya. Kini, ketika ibu melemah, justru kita menjauh.
Islam memuliakan ibu bukan tanpa alasan. Rasulullah SAW menempatkan ibu tiga tingkat di atas ayah dalam hal bakti. Surga digambarkan berada di bawah telapak kakinya. Itu bukan simbol berlebihan, melainkan peringatan keras bahwa mengabaikan ibu berarti mempertaruhkan kebahagiaan hidup. Namun bakti kepada ibu bukan sekadar ritual. Ia adalah sikap hidup: menghormati, mendengarkan, menjaga perasaan, dan merawat dengan sepenuh hati.
Hari Ibu seharusnya menjadi hari bercermin, bukan sekadar hari perayaan. Hari untuk bertanya dengan jujur pada diri sendiri: Apakah aku masih menyempatkan waktu untuk ibu?
Apakah aku masih mendengarkan ceritanya yang berulang? Apakah aku hadir saat ia membutuhkan, bukan hanya saat aku membutuhkan? Jika belum, maka Hari Ibu belum benar-benar kita maknai.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!