VISI | Malaikat Pelindung (Refleksi Hari Ibu)
Tuhan tersenyum dalam kebijaksanaan-Nya, “Namanya tidak penting. Kelak kau akan memanggilnya dengan satu sebutan: Ibu.”
Ibu: Malaikat yang Turun ke Bumi
Hari ini, Senin 22 Desember, negeri ini kembali memperingati Hari Ibu Nasional. Sebuah momentum yang sering kita rayakan dengan bunga, kartu ucapan, dan unggahan media sosial. Namun sesungguhnya, Hari Ibu bukan sekadar peringatan, melainkan pengakuan sejarah dan kemanusiaan atas kehadiran sosok paling kuat, paling sabar, dan paling mencintai tanpa syarat: Ibu.
Ibu adalah malaikat yang ditugaskan Tuhan bukan dengan sayap, melainkan dengan rahim, air mata, dan doa. Ia tidak bersinar seperti malaikat dalam kisah langit, tetapi cahayanya terasa dalam gelapnya malam ketika anaknya sakit. Ia tidak bersuara seperti sangkakala, tetapi bisikannya menenangkan jiwa yang gelisah.
Sejak detik pertama kehidupan, ibu telah menjadi benteng pertahanan paling kokoh. Ketika dunia belum ramah, ketika tubuh bayi rapuh, ketika bahasa belum terbentuk—ibu hadir dengan naluri ilahiah yang tak pernah diajarkan di sekolah mana pun.
Kasih sayang ibu bukanlah teori. Ia adalah praktik hidup sehari-hari yang sering luput kita sadari. Ibu terbangun di malam hari bukan karena kewajiban, melainkan karena cinta. Ibu mengorbankan waktu, tenaga, dan mimpinya tanpa pernah menuntut imbalan. Ibu sering lupa pada dirinya sendiri demi memastikan anaknya baik-baik saja.
Ia kuat bukan karena tidak lelah, melainkan karena tidak punya pilihan untuk menyerah. Ia sabar bukan karena tidak terluka, tetapi karena memilih menyembunyikan lukanya. Dalam diamnya, ibu berdoa. Dalam letihnya, ibu berharap. Dalam air matanya, ibu menggantungkan masa depan anaknya.
Kebohongan Mulia
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!