VISI | Lucunya Negeri Kami
Oleh Drajat
NEGERI ini semakin hari semakin mencemaskan, tetapi anehnya, kita seperti terbiasa hidup dalam situasi yang “lucu”. Lucu, bukan karena menyenangkan, melainkan karena begitu ironi dan menyedihkan. Lelucon demi lelucon politik, sosial, dan terutama pendidikan, dipertontonkan di depan mata rakyat. Yang lebih menyakitkan, kelucuan ini datang bukan dari rakyat jelata, melainkan dari mereka yang seharusnya menjadi teladan: anggota dewan, pejabat publik, dan elit politik.
Bayangkan, rakyat yang berjuang dengan keringatnya disebut “dungu.” Guru dan dosen, yang jelas-jelas berperan mencerdaskan bangsa, malah dicap sebagai “beban negara.” Sementara mereka yang bicara seenaknya itu hidup dalam gaya hedon, penuh fasilitas negara, dan sering kali lupa asal-usulnya: dipilih oleh rakyat untuk mengabdi pada rakyat.
Di negeri ini, menjadi guru bukanlah perkara mudah. Wajib bergelar sarjana, bahkan tak sedikit yang didorong melanjutkan ke program magister demi memenuhi standar profesionalisme. Guru harus lulus sertifikasi, harus menguasai teknologi pembelajaran, bahkan setiap hari dituntut untuk meningkatkan kompetensi.
Bandingkan dengan syarat menjadi anggota dewan. Cukup lulusan SMA atau sederajat sudah bisa duduk di kursi empuk parlemen. Dari kursi itulah lahir undang-undang, kebijakan, dan keputusan yang menyangkut hidup-matinya bangsa. Ironi bukan? Guru yang sarjana dianggap beban, sementara wakil rakyat yang SMA bisa menentukan arah bangsa.
Lucunya negeri kami, pendidikan dituntut serba tinggi, tetapi aturan bernegara bisa dijalankan oleh orang dengan standar minimal. Alhasil, tidak heran bila ucapan, perilaku, bahkan keputusan dewan sering menyinggung hati rakyat. Mereka bicara tanpa data, berlagak tanpa ilmu, dan bertindak tanpa adab.
Pepatah lama mengatakan, “Adab itu di atas ilmu.” Orang yang berilmu tanpa adab hanyalah kesombongan yang berbalut kepintaran semu. Itulah yang kita lihat hari ini. Anggota dewan yang seharusnya menjadi teladan justru sering tampil dengan ucapan yang tidak pantas, bahkan merendahkan rakyat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!