VISI | Lucunya Negeri Kami
Mereka tidak segan memamerkan gaya hidup hedon, pesta pora, hingga perilaku yang memalukan di ruang sidang. Padahal, rakyat di luar sana masih berjuang mencari sesuap nasi, bahkan masih ada anak bangsa yang putus sekolah karena ketiadaan biaya. Lucunya negeri kami, ketika pejabat tidak tahu malu, rakyat kecil yang harus menanggung malu.
Lebih lucu lagi, ketika rakyat berani bersuara, kritik dianggap ancaman. Aktivis dikriminalisasi, guru yang kritis dipindahkan, mahasiswa yang lantang dipanggil aparat. Padahal, kritik adalah vitamin demokrasi. Kritik seharusnya menjadi masukan untuk memperbaiki bangsa. Lucunya negeri kami, pejabat yang mestinya mendengar justru menutup telinga. Mereka alergi pada kritik, tetapi haus pujian. Mereka menganggap rakyat yang kritis sebagai musuh, padahal rakyatlah pemilik kedaulatan. Ketika rakyat lebih cerdas dari wakilnya, mereka malah marah.
Mari kita lihat potret di lapangan: Guru: sarjana, bersertifikat, gajinya pas-pasan, bahkan sering keluar uang pribadi untuk muridnya. Anggota dewan? Cukup SMA, gaji puluhan juta plus tunjangan, fasilitas mewah, perjalanan dinas ke luar negeri.
Lucunya negeri kami, profesi yang menentukan masa depan bangsa malah disepelekan, sementara kursi empuk parlemen dijadikan ladang kenyamanan. Ki Hajar Dewantara pernah berpesan: “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan peringatan bahwa pendidikan adalah dasar peradaban. Tetapi, bagaimana peradaban bisa maju bila yang duduk di kursi pengambil kebijakan tidak memiliki adab dan kapasitas memadai?
Pendidikan harus dijunjung tinggi, bukan dihina. Guru dan dosen bukan beban, melainkan penyangga utama bangsa. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed menyebutkan bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan. Maka, merendahkan guru berarti menutup jalan pembebasan bangsa ini dari kebodohan dan keterbelakangan.
Lucunya negeri kami, ketika orang berilmu direndahkan, sementara mereka yang berkuasa justru merasa paling tahu. Lucunya negeri kami, ketika rakyat yang membayar pajak dimaki-maki oleh mereka yang menikmati pajak. Lucunya negeri kami, ketika kritik dianggap ancaman, sementara kebohongan dianggap wajar.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!