VISI | Lipstik Juara

ED
Senin, 11 Agustus 2025 | 05:38 WIB
Bagikan
VISI | Lipstik Juara

Oleh Drajat

DALAM setiap kompetisi, istilah “juara” selalu menjadi magnet yang memikat. Semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik, meraih podium tertinggi, bahkan menjadikan kemenangan sebagai tolok ukur keberhasilan dan prestasi. Namun, sayangnya tidak semua kemenangan lahir dari perjuangan dan kejujuran. Tidak sedikit yang justru sudah “diskenariokan”, juaranya sudah ditentukan dari awal, atau meminjam istilah sehari-hari “settingan”. Pengalaman penulis bersama anak dan lingkungan menjadi contoh nyata bagaimana istilah “juara” kerap kali menjadi lipstik semata: indah di luar, namun menyimpan banyak luka dan kekecewaan di dalam.

Suatu ketika penulis diminta mengikuti seleksi guru berprestasi tingkat kabupaten. Sebuah kesempatan yang tentu saja disambut dengan penuh tanggung jawab. Dari awal penilaian hingga proses seleksi, penulis merasa telah memberikan yang terbaik. Bahkan, salah satu juri secara langsung mengatakan, “Pak, nilai Bapak tertinggi. Bapak siap mewakili kabupaten, ya.” Namun, saat pengumuman tiba, hasilnya tidak seperti yang disampaikan. Penulis hanya menempati posisi keempat. Dalam hati, penulis hanya tersenyum, mengingat apa yang dikatakan anak sebelum mengikuti lomba: “Ngapain ikut lomba, Yah, yang juara juga sudah ada.”

Lebih miris lagi, anak penulis pun mengalami pengalaman unik! Saat mengikuti lomba tingkat provinsi dan meraih juara, ia dijanjikan hadiah uang pembinaan dalam jumlah tertentu. Namun, saat menerima hadiahnya, jumlahnya hanya setengah dari yang dijanjikan. Saat bertanya kepada gurunya, sang guru hanya bisa menjawab, “Ibu juga tidak tahu, mungkin sudah dipotong oleh pihak lain.” Dari sana muncul sebuah kalimat yang menyayat hati, “Ade kalau sudah besar, tidak akan jadi pegawai negeri, takut tidak amanah seperti yang ngambil uang hadiah Ade.”

Pengalaman lainnya muncul ketika anak mengikuti lomba literasi. Salah satu aturan menyebutkan bahwa sekolah dari juri lomba tidak boleh menjadi peserta. Namun, sekolah tersebut tetap ikut dan, tak mengherankan, menjadi juara satu. Ketika kecurangan dibungkam dan dilegalkan oleh sistem, nilai-nilai kejujuran menjadi langka. Kemenangan tidak lagi diraih oleh mereka yang layak, tapi oleh mereka yang dekat, dikenal, atau “punya orang dalam”.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.