VISI | Lipstik Juara
Prof. Suyanto, M.Ed., mantan Dirjen Dikdasmen Kemendikbud pernah mengatakan, “Kejujuran adalah pondasi utama pendidikan. Jika kita tidak menanamkan kejujuran sejak dini, maka generasi yang kita hasilkan akan pintar secara intelektual namun rapuh secara moral.”
Sementara itu, menurut Transparency International Indonesia (2023), salah satu sektor dengan persepsi korupsi yang tinggi adalah sektor pendidikan. Ini menunjukkan bahwa praktik-praktik tidak jujur bukan hanya terjadi di level tinggi, tapi juga mengakar hingga ke level bawah.
Sebuah studi dari Kemendikbudristek pada tahun 2021 menunjukkan bahwa lebih dari 40% pelaksanaan lomba dan kegiatan kompetisi pendidikan tidak memiliki tindak lanjut yang konkret dalam bentuk pembinaan atau monitoring. Artinya, lomba hanya menjadi kegiatan seremonial, sekadar “menghabiskan anggaran”, bukan sarana pembinaan karakter dan kemampuan.
Melihat kondisi ini, perlu ada pembenahan besar-besaran dalam sistem pelaksanaan kompetisi di lingkungan pendidikan. Beberapa rekomendasi yang dapat diterapkan antara lain: Pertama, transparansi dan akuntabilitas juri: Setiap kegiatan lomba harus diumumkan secara terbuka siapa saja juri yang terlibat, berikut rekam jejak dan afiliasinya. Sekolah tempat juri mengajar sebaiknya tidak diperbolehkan mengikuti lomba yang sama.
Kedua, tindak lanjut kompetisi: Juara tidak boleh berhenti pada seremoni. Harus ada program pembinaan lanjutan agar prestasi peserta didik terus berkembang. Ketiga, pembuatan basis data juara dan rekam jejaknya: Sehingga proses identifikasi prestasi tidak hanya berbasis subjektifitas.
Berikutnua keempat, pengawasan eksternal: Melibatkan pihak luar seperti media, LSM, dan tokoh masyarakat dalam proses pengawasan pelaksanaan kompetisi. Terakhir, pendidikan nilai dalam kurikulum: Menanamkan nilai kejujuran, sportivitas, dan integritas dalam pendidikan karakter sejak dini.
Juara seharusnya adalah hasil dari kerja keras, ketekunan, dan dedikasi. Jika predikat juara bisa dibeli, diskenariokan, atau dimanipulasi, maka kita tidak sedang membangun bangsa, melainkan menghancurkan fondasinya. Sebab bangsa besar tidak dibangun dari prestasi semu, tetapi dari nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Mari kita hentikan budaya “lipstik juara”, dan mulai mengembalikan makna sejati dari kata juara itu sendiri: adil, jujur, dan pantas.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!