VISI | Larangan Usia Media Sosial di Australia Telah Dimulai. Inilah Makna Sebenarnya

ED
Kamis, 18 Desember 2025 | 07:02 WIB
Bagikan
VISI | Larangan Usia Media Sosial di Australia Telah Dimulai. Inilah Makna Sebenarnya

Kaum muda selalu menjadi bagian dari kehidupan publik. Platform digital telah memberi mereka cara untuk belajar, berbagi gagasan, dan mengorganisasi gerakan. Aksi mogok sekolah untuk iklim adalah contoh jelas. Gerakan ini dibentuk secara daring oleh anak muda bahkan sebelum mereka cukup umur untuk memilih.

Larangan usia ini menghilangkan banyak alat yang mereka gunakan untuk berbicara sebagai sebuah kelompok. Padahal, hak mereka untuk berpartisipasi secara politik merupakan bagian inti dari Konvensi Hak-Hak Anak. Kebijakan tidak seharusnya membungkam suara-suara ini atau memperlakukan mereka sebagai ancaman.

Ketika larangan ini mulai berlaku, kita harus mencari cara untuk memulihkan peran sosial anak muda. Kita membutuhkan pendidikan yang mendukung penggunaan media secara kritis. Kita memerlukan ruang aman untuk partisipasi sipil. Kita harus mendengarkan ketika anak muda menjelaskan bagaimana dan mengapa mereka menggunakan alat digital.

Pekerjaan Berat Baru Dimulai

Larangan usia media sosial adalah sebuah eksperimen besar. Ia mungkin mencegah sebagian bahaya, tetapi juga dapat menciptakan risiko baru. Masalah inti yang melatarbelakangi kebijakan ini masih ada: perundungan terus berlangsung, tantangan kesehatan mental terus berlanjut, kebutuhan akan panduan yang jelas bagi keluarga dan sekolah tetap ada, dan hak anak muda untuk berpartisipasi dalam masyarakat tetap relevan.

Mengesahkan undang-undang itu mudah. Membangun sistem pendukung yang kuat dan budaya kepedulian di sekitar anak muda jauh lebih sulit. Larangan ini telah menyerap banyak perhatian dari upaya tersebut. Kini saatnya mengembalikan fokus pada hal yang benar-benar penting: mendukung setiap anak muda agar dapat menjalani kehidupan sosial yang utuh di semua ruang yang mereka pilih untuk huni, menjaga hak-hak mereka tetap di pusat kebijakan, dan memperlakukan mereka bukan sebagai objek yang harus dilindungi dari masyarakat, melainkan sebagai anggota masyarakat itu sendiri.

  • Penulis, Daniel Angus adalah profesor di QUT dan Direktur Digital Media Research Centre.
  • Artikel ini pertama kali diterbitkan di bawah lisensi Creative Commons oleh 360info™.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.