VISI | Larangan Usia Media Sosial di Australia Telah Dimulai. Inilah Makna Sebenarnya

ED
Kamis, 18 Desember 2025 | 07:02 WIB
Bagikan
VISI | Larangan Usia Media Sosial di Australia Telah Dimulai. Inilah Makna Sebenarnya

Poin ini sangat penting. Banyak komentar publik menyiratkan bahwa orang tua yang membantu remaja tetap online melakukan sesuatu yang menyimpang. Itu tidak benar. Mereka berada di wilayah abu-abu yang selama ini memang dijalani keluarga dalam kehidupan digital. Undang-undang ini merupakan beban kepatuhan bagi platform, bukan tindak pidana bagi pengguna.

Dalam praktiknya, platform diwajibkan mengambil langkah-langkah yang wajar untuk mencegah siapa pun di bawah usia 16 tahun memiliki akun. Mereka diharapkan menggunakan berbagai metode pemeriksaan identitas yang baru, berpotensi invasif, dan tidak selalu akurat. Platform juga harus membuktikan bahwa mereka benar-benar berupaya mematuhi aturan. Hingga kini, belum jelas bagaimana sistem ini akan memperlakukan anak muda atau orang dewasa yang tidak memiliki dokumen identitas resmi, meskipun undang-undang melarang penggunaan dokumen tersebut sebagai satu-satunya mekanisme pembuktian usia.

Larangan Masuk Akun, Bukan Larangan Akses

Sementara perdebatan publik banyak menyoroti pilihan orang tua, isu sebenarnya adalah kepatuhan korporasi dan desain teknis platform.

Undang-undang ini dibangun atas asumsi bahwa bahaya yang dihadapi anak muda hanya terjadi ketika mereka masuk (logged in) ke akun. Ini mencerminkan keyakinan bahwa status masuk akun menentukan bagaimana konten disajikan kepada remaja. Memang benar sistem rekomendasi menargetkan pengguna saat mereka masuk akun. Akun juga membentuk apa yang dilihat remaja dan dengan siapa mereka berinteraksi. Namun, sebagian besar platform masih dapat diakses tanpa masuk akun (misalnya TikTok dan YouTube). Larangan ini tidak mencegah remaja mengunjungi situs-situs tersebut, melainkan hanya melarang mereka memiliki akun pribadi yang mengikuti mereka dari satu perangkat ke perangkat lain.

Hal ini menciptakan celah yang janggal. Setelah larangan berlaku, seorang remaja masih dapat menggulir linimasa, menonton video, atau mencari konten tanpa masuk akun. Pengalaman mereka mungkin menjadi kurang personal, tetapi juga bisa menjadi lebih acak dan berpotensi lebih berisiko. Akses tanpa akun dapat menampilkan campuran konten yang sangat luas. Sebaliknya, linimasa yang dipersonalisasi terkadang justru menyaring sebagian konten yang tidak diinginkan. Dengan demikian, menghapus akun tidak serta-merta menghapus paparan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.