VISI | Kreativitas adalah Nyawa
Memang, ancaman atau intimidasi itu nyata. Beberapa kali penulis menerima sindiran, bahkan ancaman, karena tulisan yang dianggap “terlalu berani.” Namun, sejak awal keyakinan sudah ditanamkan: “Allah bersama orang-orang yang menyampaikan kebenaran.” Maka, untuk apa takut?
Kreativitas dalam menulis bukan hanya sekadar soal keindahan bahasa, melainkan cara bernapas bagi jiwa yang merdeka. Tanpa kreativitas, manusia akan terjebak dalam rutinitas yang kering dan beku. Kreativitas menulis adalah daya untuk terus hidup, meski di tengah suasana yang menyesakkan.
Inilah mengapa kreativitas tidak boleh dibunuh. Membatasi kebebasan berekspresi, mengancam penulis, atau menutup ruang kritis sama saja dengan membunuh nyawa bangsa. Karena bangsa yang sehat adalah bangsa yang berani mendengar kritik, bukan bangsa yang alergi pada suara berbeda.
Paulo Freire, tokoh pendidikan asal Brasil, menegaskan: “Jika pendidikan tidak memerdekakan, maka pendidikan itu sedang mendidik untuk penindasan.” Begitu pula dengan menulis: jika tulisan hanya dijadikan alat penjilat atau pelengkap laporan asal bapak senang, maka sesungguhnya kita sedang membunuh hakikat literasi.
Sebagai guru, menulis bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk peserta didik. Tulisan guru adalah cermin nilai, teladan keberanian, sekaligus bukti bahwa ilmu harus diiringi dengan adab. Bagaimana mungkin kita mendidik generasi kritis, jika kita sendiri takut untuk bersuara?
Kreativitas guru dalam menulis dan mengajar adalah “nyawa” pendidikan. Tanpa kreativitas, kelas hanya menjadi ruang monoton penuh hafalan. Tanpa keberanian, pendidikan hanya menjadi formalitas tanpa makna. Dengan menulis, guru membuktikan bahwa pendidikan masih punya denyut, masih punya harapan.
Kreativitas adalah nyawa. Ia tidak bisa dibunuh hanya dengan ancaman atau intimidasi. Justru semakin ditekan, kreativitas akan mencari jalan lain untuk keluar. Sebab menulis bukan sekadar aktivitas, melainkan panggilan jiwa.
Kepada para sahabat yang bertanya, apakah tidak takut menulis kritik? Jawabannya sederhana: takut itu manusiawi, tetapi diam jauh lebih menakutkan. Karena diam berarti membiarkan kebatilan berkuasa, membiarkan generasi mendatang tumbuh tanpa arah. Maka, selama pena, tuts masih bisa digerakkan, selama hati masih peka pada kebenaran, menulis akan terus dilakukan. Karena pada akhirnya, menulis bukan hanya soal kata-kata, tetapi soal menjaga nyawa peradaban.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!