VISI | Koperasi di Era Digital
Tantangan dan Peluang
Mengelola koperasi tidaklah mudah. Saya sendiri pernah menulis buku khusus mengenai koperasi bersama Ketua Koperasi Pegawai Telkom (Kopegtel) Pusat Achmad Setiawan. Buku yang berjudul "Koperasi Indonesia, Apa Kata Mereka", diterbitkan sekitar tahun 1997. Buku ini mengupas harapan dan keinginan para pengurus koperasi serta profil koperasi-koperasi BUMN di Jawa Barat.
Pada masa itu, belum ada marketplace, media sosial, dan jaringan internet yang masif seperti sekarang. Buku tersebut sangat bermanfaat bagi para pengurus koperasi untuk menjalin kemitraan usaha dengan Koperasi BUMN. Informasi mengenai nama koperasi, contact person, alamat, dan detail lainnya ada dalam buku tersebut, memudahkan mereka dalam berkolaborasi.
Koperasi-koperasi di bawah naungan Forum Koperasi Karyawan (FKK) BUMN berkembang pesat. Beberapa perusahaan milik koperasi bahkan menjadi mitra usaha BUMN, mulai dari pekerjaan kecil seperti usaha klining dan sekuriti hingga menjadi vendor pekerjaan besar di BUMN. Aset koperasi BUMN sangat besar, dan karyawan yang bekerja di koperasi ini mendapatkan gaji di atas UMK, fasilitas kendaraan, tunjangan jabatan, makan, transportasi, kesehatan, dan tunjangan-tunjangan lainnya. Jam kerja mereka juga sama dengan jam kerja BUMN, dengan libur di hari Sabtu dan Minggu.
Inspirasi dari Grassroot: Perjuangan PKL
Di tingkat grassroot, saya pernah menulis buku tentang pedagang kaki lima (PKL) yang menampilkan pengelolaan koperasi PKL Kopanti (Koperasi Panca Bhakti) yang dimotori oleh almarhum Pak Andra Azwar Ludin. Beliau menjadi tokoh sentral dalam pemberdayaan PKL di Kota Bandung, dengan mengayomi para PKL di setiap sudut kota. Berkat Pak Andra, PKL di Alun-alun Kota Bandung bisa menikmati tempat kulineran di lantai bawah Yogja Kapatihan "Pujakalima", yang lokasinya strategis menghadap langsung ke Jalan Dewi Sartika Bandung.
Pak Andra juga pertama kali menata PKL di kawasan elit ITB seperti Jalan Gelap Nyawang, Tamansari, dan Ganesha sehingga menjadi tertib. Jejak Kopanti yang dipimpin Pak Andra juga terlihat di Pasar Balubur, Pasar Buku Surapati, dan Mal Ujungberung. Sebagai pengelola koperasi yang berwatak sosial, sebelum kepulangannya, Pak Andra membangun lebih dari 10 mesjid di Bandung dan Jawa Barat, seperti Mesjid Al Azwar di Kecamatan Paseh dan Lantaburon di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Kiprah inspiratifnya saya aktualisasikan dalam buku "Andra, Separuh Hidup untuk PKL".
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!