VISI | Koperasi di Era Digital
Oleh Aep S. Abdullah
DALAM istilah koperasi, kita mengenal tiga istilah. Koperasi merpati, pedati, dan sejati. Masing-masing memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri, yang menggambarkan perjalanan panjang koperasi di Indonesia.
Koperasi Merpati: Bantuan Menjadi Napas
Koperasi merpati, koperasi yang muncul saat ada bantuan dana dari pemerintah. Jumlahnya bisa sangat banyak saat bantuan melimpah, puncaknya di era Menteri Koperasi Adi Sasono. Namun ketika bantuan dihentikan, koperasi-koperasi ini perlahan menghilang. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada bantuan eksternal membuat koperasi jenis ini rentan terhadap perubahan kebijakan dan kondisi ekonomi.
Koperasi Pedati: Butuh Dorongan untuk Terus Bergerak
Koperasi pedati, koperasi yang memerlukan dorongan terus-menerus agar tidak mandek. Mereka bisa bertahan dengan adanya dukungan dan dorongan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun komunitas. Namun, jika dorongan ini berhenti, koperasi pedati bisa kehilangan momentum dan stagnan.
Koperasi Sejati, Mandiri dan Tangguh
Koperasi sejati yang paling ideal. Mereka mampu bertahan dan berkembang baik dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Anggota koperasi sejati cenderung loyal dan berkomitmen, sehingga koperasi ini bisa terus hidup dan berkembang. Jumlah anggotanya kian bertambah seiring dengan kepercayaan yang dibangun dari manajemen yang baik dan transparan.
Tantangan dan Peluang
Mengelola koperasi tidaklah mudah. Saya sendiri pernah menulis buku khusus mengenai koperasi bersama Ketua Koperasi Pegawai Telkom (Kopegtel) Pusat Achmad Setiawan. Buku yang berjudul "Koperasi Indonesia, Apa Kata Mereka", diterbitkan sekitar tahun 1997. Buku ini mengupas harapan dan keinginan para pengurus koperasi serta profil koperasi-koperasi BUMN di Jawa Barat.
Pada masa itu, belum ada marketplace, media sosial, dan jaringan internet yang masif seperti sekarang. Buku tersebut sangat bermanfaat bagi para pengurus koperasi untuk menjalin kemitraan usaha dengan Koperasi BUMN. Informasi mengenai nama koperasi, contact person, alamat, dan detail lainnya ada dalam buku tersebut, memudahkan mereka dalam berkolaborasi.
Koperasi-koperasi di bawah naungan Forum Koperasi Karyawan (FKK) BUMN berkembang pesat. Beberapa perusahaan milik koperasi bahkan menjadi mitra usaha BUMN, mulai dari pekerjaan kecil seperti usaha klining dan sekuriti hingga menjadi vendor pekerjaan besar di BUMN. Aset koperasi BUMN sangat besar, dan karyawan yang bekerja di koperasi ini mendapatkan gaji di atas UMK, fasilitas kendaraan, tunjangan jabatan, makan, transportasi, kesehatan, dan tunjangan-tunjangan lainnya. Jam kerja mereka juga sama dengan jam kerja BUMN, dengan libur di hari Sabtu dan Minggu.
Inspirasi dari Grassroot: Perjuangan PKL
Di tingkat grassroot, saya pernah menulis buku tentang pedagang kaki lima (PKL) yang menampilkan pengelolaan koperasi PKL Kopanti (Koperasi Panca Bhakti) yang dimotori oleh almarhum Pak Andra Azwar Ludin. Beliau menjadi tokoh sentral dalam pemberdayaan PKL di Kota Bandung, dengan mengayomi para PKL di setiap sudut kota. Berkat Pak Andra, PKL di Alun-alun Kota Bandung bisa menikmati tempat kulineran di lantai bawah Yogja Kapatihan "Pujakalima", yang lokasinya strategis menghadap langsung ke Jalan Dewi Sartika Bandung.
Pak Andra juga pertama kali menata PKL di kawasan elit ITB seperti Jalan Gelap Nyawang, Tamansari, dan Ganesha sehingga menjadi tertib. Jejak Kopanti yang dipimpin Pak Andra juga terlihat di Pasar Balubur, Pasar Buku Surapati, dan Mal Ujungberung. Sebagai pengelola koperasi yang berwatak sosial, sebelum kepulangannya, Pak Andra membangun lebih dari 10 mesjid di Bandung dan Jawa Barat, seperti Mesjid Al Azwar di Kecamatan Paseh dan Lantaburon di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Kiprah inspiratifnya saya aktualisasikan dalam buku "Andra, Separuh Hidup untuk PKL".
Masa Depan Koperasi di Era Digital
Hari ini, 12 Juli 2024, gerakan koperasi di Indonesia memasuki usianya yang ke-77. Koperasi harus tetap berkibar di era digital. Pemanfaatan teknologi tidak bisa diabaikan lagi. Transaksi digital harus banyak diaplikasikan untuk memudahkan anggota dalam berinteraksi dengan badan usaha ini. Yang tak kalah penting adalah kemampuan manajerial, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan usaha yang menjadi jantung keberlangsungan koperasi. Contoh sukses adalah Koperasi Rukun Ikhtiar yang tetap berkibar hingga kini dan tidak kalah oleh BPR maupun lembaga keuangan kecil lainnya.
Dirgahayu Koperasi Indonesia! Semoga terus berkembang dan memberikan manfaat bagi seluruh anggotanya, serta beradaptasi dengan baik di era digital ini.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!