VISI | Koperasi di Era Digital
Oleh Aep S. Abdullah
DALAM istilah koperasi, kita mengenal tiga istilah. Koperasi merpati, pedati, dan sejati. Masing-masing memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri, yang menggambarkan perjalanan panjang koperasi di Indonesia.
Koperasi Merpati: Bantuan Menjadi Napas
Koperasi merpati, koperasi yang muncul saat ada bantuan dana dari pemerintah. Jumlahnya bisa sangat banyak saat bantuan melimpah, puncaknya di era Menteri Koperasi Adi Sasono. Namun ketika bantuan dihentikan, koperasi-koperasi ini perlahan menghilang. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada bantuan eksternal membuat koperasi jenis ini rentan terhadap perubahan kebijakan dan kondisi ekonomi.
Koperasi Pedati: Butuh Dorongan untuk Terus Bergerak
Koperasi pedati, koperasi yang memerlukan dorongan terus-menerus agar tidak mandek. Mereka bisa bertahan dengan adanya dukungan dan dorongan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun komunitas. Namun, jika dorongan ini berhenti, koperasi pedati bisa kehilangan momentum dan stagnan.
Koperasi Sejati, Mandiri dan Tangguh
Koperasi sejati yang paling ideal. Mereka mampu bertahan dan berkembang baik dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Anggota koperasi sejati cenderung loyal dan berkomitmen, sehingga koperasi ini bisa terus hidup dan berkembang. Jumlah anggotanya kian bertambah seiring dengan kepercayaan yang dibangun dari manajemen yang baik dan transparan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!