VISI | Kisah Pilu Para Caleg
Oleh Idat Mustari
MESKIPUN tanggal pendaftaran pendaftaran bakal calon anggota legislatif alias Bacaleg DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, serta DPD telah dibuka dari 1-14 Mei 2023, namun sampai saat ini 'hilal' sidang putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal sistem pemilu belum tampak. Apakah akan tetap proporsional terbuka, diubah menjadi proporsional tertutup, atau dimodifikasi.
Mungkin karena belum jelas kepastian sistem pemilu seperti apa yang akan diberlakukan, maka suasana Pileg 2024 tidak seperti Pileg sebelumnya. Di Pileg sebelumnya (2019), jalanan sudah ramai dengan poster, gambar para Bacaleg. Begitupun jika saja, dari bulan-bulan lalu, Mahkamah Konstitusi (MK) mengumumkan bahwa sistem pemilu tertutup yang akan diberlakukan maka akan menurunkan minat orang untuk jadi Bacaleg.
Sistem pemilu terbukalah yang bisa memberikan ruang—kesempatan bagi siapa saja yang ingin jadi anggota parlemen. Orang dengan latar belakang apa saja bisa ; artis, ustad, pengusaha, pengangguran bahkan preman sekalipun bisa mencalonkan diri sebagai Caleg, selama persyaratan administrasi terpenuhi.
Pileg (Pemilihan Legislatif) dengan sistem terbuka seperti di Pileg tahun 2009, 2014, dan 2019 ibarat sebuah kompetisi, ada yang lolos terpilih, ada yang gagal tak terpilih. Tentu yang terpilih syukuran. Syukuran terpilih jadi dewan. Sedangkan bagi yang tidak terpilih ada yang mampu melewati peristiwa itu sebagai peristiwa biasa-biasa saja, ada juga yang sampai mengalami gangguan jiwa.
Berikut ini penyimpangan jiwa dari para Caleg yang gagal, yang coba penulis urut meskipun tidak semua ditulis, cukup beberapa contoh kasus pada setiap pasca Pileg.
Pasca pemilu Legislatif 2009, Balai Kesehatan Jiwa Masyarakat (BKJM) Kalawa Atel Palangkaraya menerima lima pasien gangguan jiwa, yakni dua calon anggota legislator dan tiga simpatisan partai politik. Menurut BKJM kalawa Atel pangkaraya, Wineini Marhaeny Rubay, dalam sebuah wawancara dengan media, salah satu Caleg yang datang sudah dalam kondisi gila pada tanggal 10 April 2009 atau sehari setelah pemilu digelar, dan sempat mendapat perawatan darurat sebelum akhirnya dikirim ke Yayasan Joint Adulam Ministry yang menjadi penampungan orang-orang gila.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!