VISI | Kisah Pilu Para Caleg
Di Tanggerang, ada Caleg gagal marah-marah tak jelas dan terlihat frustasi berat. Dia merangkak di pinggir jalan dengan membawa-bawa cangkir sambil meminta-minta uang kepada orang yang berlalu lalang, sembari berujar, ”kembalikan uang saya!”
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan ribuan orang mengalami gangguan jiwa dan menjadi pasien pasca-Pemilu 2009. Pada Pemilu 2014 juga terdapat sejumlah orang yang mengalami gangguan jiwa, tapi jumlahnya tak sebanyak di 2009.
Pasca Pemilu 2014, ada Caleg yang meminta kembali sumbangan yang diberikan ke masjid, dan 10 truk pasir dan kubah masjid karena tidak memperoleh suara (gagal) di sebuah desa. Ada juga Caleg yang gagal dibawa oleh keluarganya ke sebuah padepokan di Desa Sinarancang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Dia menjalani pengobatan di padepokan dengan cara dimandikan dulu, lantas dibacakan ayat-ayat suci Al- Quran atau diruqyah, agar sembuh dari stressnya. Selain stress ada yang sampai depresi, yang membuat sang Caleg gagal bunuh diri di sebuah saung bambu di Dusun Limusnunggal, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis.
Sejumlah calon anggota legislatif gagal terpilih untuk duduk di parlemen dalam pemilu 2019, beberapa diantaranya mengalami stres. Salah satunya Arif, bukan nama sebenarnya. Ia bertarung di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, untuk duduk di kursi anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD). Sejak tiga hari setelah hari pencoblosan hingga Kamis (16/5) lalu, Arif justru duduk di tempat lain: panti rehabilitasi jiwa dan narkoba di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ia stres usai gagal memperoleh kursi parlemen. "Kacau. Bingung," imbuh Arif, lirih.
Itulah beberapa kisah pilu Caleg gagal di Pileg dengan sistem Pemilu terbuka. Kisah-kisah itu sungguh terjadi di negeri ini sejak Pemilu merupakan ajang “jorjoran” untuk merebut hati publik yang menyedot banyak tenaga dan biaya. Tentu kisah pilu Caleg gagal tak perlu menyurutkan semangat bagi siapapun yang berminat jadi Caleg di Pileg 2024, namun perlu realitis jangan sampai kehilangan akal waras, hingga kemudian jadi tidak waras.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!